Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Politik · 17 Jun 2026 14:29 WIB ·

Jagatani Puji Sikap Terbuka Budiman Cs Hadapi Debat Mahasiswa UGM


Jagatani Puji Sikap Terbuka Budiman Cs Hadapi Debat Mahasiswa UGM Perbesar

Jakarta | Harian Merdeka

Insiden pembubaran diskusi publik yang menghadirkan sejumlah pejabat Kabinet Prabowo-Gibran oleh ratusan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin malam (15/6) memicu perhatian luas dari berbagai kalangan publik.

Menanggapi dinamika yang memanas tersebut, Ketua Komite Penggerak Nasional (KPN) Jejaring Penggerak Agraria dan Kaum Tani Hutan Indonesia (JAGATANI) mengungkapkan situasi nasional saat ini bahwa mereka memandang peristiwa ini sebagai refleksi penting dari dua sisi mata uang demokrasi yang sama-sama bernilai penting, yaitu ketegasan hak kritis mahasiswa dan kedewasaan kewajiban dialog dari pihak pemerintah.

“Dinamika demokrasi di UGM kemarin saya kira itu bentuk refleksi atas kondisi bernegara dan berbangsa kita saat ini dimana rakyat melihat ada sesuatu yang kurang dari cara pemerintah mengelola sedangkan disisi lain via Sudaryono, Budiman dan Nusron pemerintah tetap hadir berdialog dengan dewasa” ungkap Ketua KPN Jagatani Maslam Danuri.

Di satu sisi, JAGATANI memberikan penghormatan mendalam terhadap idealisme dan ketegasan moral yang ditunjukkan oleh gerakan mahasiswa UGM. Aksi penolakan tersebut tidak boleh dinilai sekadar sebagai kericuhan fisik belaka, melainkan harus dibaca sebagai manifestasi dari kekecewaan dan kecemasan nyata masyarakat bawah yang disuarakan oleh kaum intelektual muda.

“Mahasiswa hadir membawa kegelisahan para petani kecil, buruh tani, dan masyarakat adat yang hari ini ruang hidupnya terancam oleh berbagai proyek oligarki serta alih fungsi lahan skala besar, termasuk di wilayah Papua, Kampus harus tetap mempertahankan marwahnya sebagai benteng terakhir dan ruang merdeka yang tidak boleh dikooptasi oleh narasi-narasi normatif kekuasaan, Tuntutan konkret mahasiswa atas transparansi kebijakan agraria, tata ruang, dan pengentasan kemiskinan adalah bentuk kontrol sosial yang sah dan sangat diperlukan agar jalannya pemerintahan tetap berada di jalur yang berpihak pada rakyat” papar Maslam.

Di sisi lain, Maslam mengungkapkan jika JAGATANI memberikan apresiasi tinggi atas respons bermartabat dan sikap terbuka yang ditunjukkan oleh para pejabat negara yang hadir, khususnya Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko.

“Langkah para pejabat yang memilih tidak langsung mengamankan diri, melainkan turun ke jalan dan bahkan duduk bersila di atas aspal demi menemui massa yang berdemonstrasi, adalah sebuah preseden baik dalam budaya politik kita” ungkap Maslam.

Sikap ini menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi tekanan publik serta komitmen konkret bahwa pemerintah memiliki iktikad untuk tidak anti-kritik. Kehadiran mereka di lingkungan akademis sejak awal didasari oleh niat baik untuk memaparkan program kerja, menyerap aspirasi secara langsung, serta membuka ruang uji publik yang demokratis atas kebijakan sektor pertanian dan pertanahan yang sedang berjalan.

Melihat dinamika ini, JAGATANI menilai ketegangan di UGM membuktikan adanya sumbatan komunikasi sektoral yang harus segera diurai demi kepentingan nasional. Sektor pertanian dan pembenahan tata ruang agraria nasional tidak akan pernah selesai jika energi bangsa habis dalam polarisasi benturan di lapangan antara aparat, pejabat, dan mahasiswa.

Ada energi luar biasa dari kedua belah pihak yakni mahasiswa memiliki gairah murni membela rakyat, sementara pemerintah menunjukkan komitmen nyata untuk membuka diri dan mendengar.

Oleh karena itu, JAGATANI mendesak agar momentum ini dijadikan titik balik untuk menyalurkan energi kritik tersebut ke meja kebijakan melalui forum audiensi susulan yang lebih kondusif, terukur, dan berbasis data.

“Pemerintah harus menjawab kritik tajam mahasiswa dengan realisasi kebijakan nyata yang melindungi tanah pangan petani kecil. Sebaliknya, elemen mahasiswa juga diharapkan terus mengawal jalannya pemerintahan lewat adu argumen dan tawaran solusi alternatif yang konstruktif di meja dialog formal demi kemandirian pangan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tegas Maslam. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sekjen Golkar M. Sarmuji Tekankan Pentingnya Adaptasi bagi Kader Muda AMPG di Era Digital

13 Juli 2026 - 12:30 WIB

Sebut PBNU Perlu Perubahan, Cak Imin Dorong Munculnya Sosok Ketua Umum Baru

13 Juli 2026 - 12:27 WIB

Potret Kebersamaan Kapolri, Jaksa Agung, hingga Kepala BIN di Hari Koperasi ke-79

13 Juli 2026 - 12:05 WIB

Anggota DPR RI Rachmat Gobel Meninggal Dunia

10 Juli 2026 - 13:31 WIB

PDIP Pilih Jadi Penyeimbang, Sekjen Golkar: Silakan, Nanti Rakyat yang Menilai!

9 Juli 2026 - 14:10 WIB

PSI Tangsel Bergabungnya Narji Cagur Tambah Kekuatan di Masyarakat

9 Juli 2026 - 12:12 WIB

Trending di Politik