JAKARTA | Harian Merdeka
Aksi kemanusiaan global menuju Jalur Gaza berakhir dengan ketegangan di laut. Global Sumud Flotilla (GSF), armada bantuan internasional yang membawa pasokan medis dan pangan, diserang dan dicegat Angkatan Laut Israel, Rabu (1/10) malam. Akibatnya lebih 200 aktivis dari puluhan negara, termasuk Indonesia, dikabarkan di tahan.
Insiden dramatis ini terjadi ketika armada yang terdiri dari 19 kapal, termasuk Alma, Sirius, Adara, dan Deir Yassin, berlayar sejauh 80 mil laut (sekitar 148 km) dari pantai Gaza.
Ini adalah titik di mana kapal-kapal sipil tersebut mulai menantang blokade ketat yang telah diberlakukan Israel selama bertahun-tahun terhadap wilayah Palestina itu.
Komite Internasional untuk Mematahkan Pengepungan di Gaza (ICBSG) mengonfirmasi bahwa pasukan Israel mengepung kapal-kapal tersebut. Situasi semakin mencekam ketika para aktivis melaporkan adanya gangguan sinyal dan pemutusan komunikasi di sebagian besar kapal, indikasi dari operasi militer terstruktur.
“Kami sedang diserang sekarang oleh tentara Zionis (Israel). Beberapa kapal telah dicegat dan keadaan darurat telah diumumkan di semua kapal,” ujar ICBSG melalui platform X.
Mereka menambahkan, “Siaga Tinggi. Kapal-kapal kami dicegat secara ilegal. Kamera sedang offline, dan kapal-kapal telah dinaiki oleh personel militer.”
Rekaman video singkat yang sempat diunggah aktivis di media sosial memperlihatkan kapal-kapal Angkatan Laut Israel mendekat dan memaksa konvoi kemanusiaan itu mengubah arah pelayaran mereka.
ICBSG secara tegas menuduh Israel menggunakan kekerasan berlebihan selama operasi penyerbuan. Taktik yang disebut-sebut digunakan termasuk menabrak kapal bantuan, menembakkan meriam air, serta ‘memperlakukan secara brutal tahanan damai dari 50 negara’.
Total, lebih dari 200 aktivis dilaporkan telah ditahan, menambah daftar panjang insiden penahanan aktivis pro-Palestina di perairan internasional.
Armada ini merupakan konvoi terbesar yang berlayar bersama menuju Gaza dalam beberapa tahun terakhir, membawa 532 warga sipil dari lebih dari 45 negara. Keberadaan para aktivis asal Indonesia dalam rombongan ini tentu memunculkan perhatian khusus dari Jakarta.
Misi utama mereka adalah mengirimkan pasokan medis dan bantuan vital bagi warga sipil Gaza yang menderita akibat blokade berkepanjangan.
Di sisi lain, kantor urusan luar negeri Israel membenarkan telah menahan sejumlah aktivis. Mereka menyatakan, para aktivis akan dibawa ke pelabuhan Ashdod untuk menjalani pemeriksaan sebelum bantuan kemanusiaan yang mereka bawa dapat disalurkan ke Gaza.
Channel 13 Israel, mengutip sumber militer, menyebutkan bahwa operasi untuk merebut armada tersebut direncanakan berlanjut hingga hari Kamis (2/10/2025), mengindikasikan skala besar operasi yang dilakukan.
Walaupun berbagai organisasi internasional, termasuk Amnesty International dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), telah menyerukan agar armada kemanusiaan ini dilindungi, seruan tersebut tampak diabaikan oleh militer Israel.
Penahanan ini menandai peningkatan ketegangan di perairan Gaza dan menjadi sorotan internasional atas kebijakan blokade Israel terhadap wilayah tersebut.
Sementara itu Kementerian Luar Negeri memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) di kapal Global Sumud Flotilla yang diintersepsi pasukan Israel pada Rabu, 1 Oktober 2025.
“Dapat kami sampaikan bahwa dalam catatan kami tidak ada WNI di dalam kapal tersebut,” kata Juru Bicara II Kemlu Vahd Nabyl A. Mulachela kepada Tempo, Kamis, 2 Oktober 2025. Ia menambahkan, Kemlu tetap memantau situasi dan menyiapkan bantuan konsuler. “Kemlu melalui KBRI terkait terus memantau dan berikan bantuan, termasuk bantuan konsuler, yang mungkin diperlukan,” ujarnya.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu Judha Nugraha pada hari yang sama juga menyebut pemerintah terus berkoordinasi dengan para peserta asal Indonesia yang ikut dalam pelayaran tersebut. “Kemlu terus memonitor dan menjalin komunikasi dengan para WNI yang bergabung dalam pelayaran Global Sumud Flotilla,” kata Judha kepada Tempo.
Ia menjelaskan, salah satu peserta, Muhammad Husein dari Indonesia Global Peace Convoy (IGPC), saat ini masih dalam perjalanan menuju Siprus. “Berdasarkan komunikasi per tanggal 2 Oktober 2025, kondisinya dalam keadaan baik,” ujarnya. Menurut Judha, KBRI Roma yang membawahi wilayah kerja Siprus telah menurunkan petugas untuk memberikan bantuan bila diperlukan.
Selain Husein, dua nama lain yang sebelumnya bergabung hingga keberangkatan akhir flotilla adalah Muhammad Fatur Rohman dari Aqsa Working Group (AWG) dan aktris sekaligus aktivis Wanda Hamidah. (jr)




