JAKARTA | HarianMerdeka
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan investigasi atas dugaan malpraktik operasi di sebuah rumah sakit di karawang hingga mengakibatkan pasien meninggal dunia dengan kondisi perit dipenuhi kain kassa.
“Ini kasus yang sangat serius dan tidak bisa dianggap sepele. Kementerian Kesehatan harus segera turun tangan, memeriksa kebenaran informasi ini, dan menindak tegas jika terbukti ada unsur kelalaian,” tegas Ninik, sapaan akrabnya, dikutip. Minggu (12/10).
Kemudian, Ninik mengingatkan kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Pada tahun 2021, kasus hampir serupa mencuat di Mimika, Papua. Dimana seorang pasien ditemukan meninggal dunia dengan benda asing tertinggal di dalam tubuh pasca operasi.
“Ini artinya ada pola pengawasan yang perlu diperbaiki di fasilitas pelayanan kesehatan kita. Kemenkes tidak boleh mengabaikan kasus seperti ini,” ujarnya.
Nihayatul Wafiroh menjelaskan, jika benar terjadi kelalaian, maka hal ini merupakan pelanggaran berat terhadap standar operasional dan etika profesi kedokteran.
Oleh karena itu, dirinya meminta klarifikasi langsung dari Kemenkes serta mendorong adanya audit medis terhadap rumah sakit terkait.
Ninik juga mengimbau kepada seluruh tenaga medis di Indonesia agar senantiasa menjunjung tinggi etika medis, profesionalisme, dan akuntabilitas dalam setiap tindakan pelayanan.
“Nyawa pasien adalah amanah yang tidak boleh disepelekan. Integritas dan kehati-hatian harus menjadi prinsip utama dalam dunia medis,” kata Ninik.
Warga Kabupaten Bekasi digemparkan dengan viralnya video dugaan malapraktik di media sosial. Video tersebut memperlihatkan jasad seorang wanita dengan luka bekas operasi di bagian perut bawah tidak dijahit, melainkan disumpal dengan kain kasa.
Korban diketahui bernama Mursiti (62), warga Kampung Pamahan, Desa Sumberurip, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Peristiwa ini menimbulkan dugaan adanya malapraktik di salah satu rumah sakit di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang.
Kasus bermula saat Mursiti mengeluh sakit bisul dan dibawa keluarga ke rumah sakit tersebut pada Senin (6/10). Setelah diperiksa di ruang UGD, ia menjalani operasi keesokan harinya, Selasa (7/10) sekitar pukul 09.00 WIB.
Pada Rabu (8/10/2025), korban diizinkan pulang ke rumah setelah perawatan pascaoperasi. Namun, kondisi Mursiti terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (11/10) dini hari di rumahnya.
Video kondisi jenazah Mursiti kemudian menyebar luas di media sosial. Dalam rekaman berdurasi kurang dari satu menit, tampak warga menarik kain kasa sepanjang sekitar 50 sentimeter dari luka di bagian perut bawah korban yang memiliki dua lubang selebar lebih dari 5 sentimeter.
Warga yang hendak memandikan jenazah terlihat terkejut melihat kondisi luka tersebut. Menurut penuturan Acih Sukarsih (41), adik korban, keluarga tidak mengetahui bahwa bagian bawah perut Mursiti turut dioperasi.
“Kami kaget karena waktu mengganti pampers, ternyata luka di bawah perut terbuka dan berisi kasa. Tidak dijahit, hanya disumpal kapas. Dokter tidak pernah menjelaskan soal itu,” ujar Acih saat ditemui di rumahnya, Sabtu (11/10).
Ia menambahkan, dokter hanya menyebutkan bahwa tindakan operasi dilakukan karena bisul dan pemeriksaan di bagian perut.
Kepala Desa Sumberurip, Jajang Sujai yang turut mendampingi keluarga saat meminta penjelasan ke pihak rumah sakit mengatakan, pihak rumah sakit mengakui adanya kasa di dalam luka operasi.
Namun, menurut pihak medis, tindakan tersebut merupakan bagian dari SOP dan rencananya luka baru akan dijahit pada Senin (13/10/2025), beberapa hari setelah operasi. “Pihak rumah sakit menjawab, keberadaan kasa itu memang bagian dari SOP tindakan medis. Namun, kami tetap berharap ada penelusuran lebih lanjut apakah tindakan itu sesuai prosedur atau tidak,” ujar Jajang.
Hingga kini, keluarga Mursiti masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak rumah sakit dan berencana melaporkan dugaan malapraktik ke kepolisian jika ditemukan cukup bukti. Jasad almarhumah Mursiti telah dimakamkan pada Sabtu (11/10/2025) siang di tempat pemakaman keluarga di Desa Sumberurip, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi. (jr)







