Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Nasional · 10 Feb 2026 13:48 WIB ·

Perpusnas Ingatkan Bahaya Jika Literasi Kalah dari AI


Perpusnas Ingatkan Bahaya Jika Literasi Kalah dari AI Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) E. Aminudin Aziz menegaskan peran strategis literasi di era akal imitasi (AI) dalam membentuk calon pemimpin nasional yang kritis, kreatif, dan adaptif di tengah cepatnya perubahan global.

Menurut Aminudin, perkembangan teknologi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, kemajuan tersebut tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir manusia. Justru, fondasi berpikir kritis harus diperkuat melalui peningkatan literasi agar teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab.

“Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kalah cepat dengan kecerdasan buatan. Literasi harus menjadi fondasi agar teknologi dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab,” kata Aminudin dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Aminudin menilai rendahnya tingkat literasi di Indonesia tidak semata-mata disebabkan oleh minimnya minat baca. Ia menekankan bahwa keterbatasan akses terhadap bahan bacaan yang relevan dengan kebutuhan dan minat masyarakat juga menjadi faktor penting.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Perpusnas saat ini mengelola lebih dari 9,7 juta eksemplar koleksi, yang mencakup buku cetak, majalah, peta, monograf, bahan audiovisual, buku digital, hingga koleksi deposit nasional yang berfungsi sebagai rekaman pengetahuan dan sejarah bangsa.

Selain penguatan literasi baca-tulis, Perpusnas juga memanfaatkan teknologi akal imitasi (AI) untuk mendukung pelestarian bahasa daerah. Dengan jumlah lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia, beberapa di antaranya kini berada dalam kondisi terancam punah. Sejak tahun 2021, Perpusnas telah mengembangkan program pendokumentasian bahasa daerah berbasis teknologi digital.

“Bahasa daerah tidak boleh tiba-tiba hilang. Data kebahasaan harus dikumpulkan, direkam, dan didukung teknologi agar bisa diwariskan lintas generasi,” ujar Aminudin.

Meski demikian, Aminudin menegaskan bahwa penguatan literasi nasional tidak boleh sepenuhnya bergantung pada teknologi digital. Perpusnas tetap memprioritaskan penyediaan buku cetak, khususnya bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap infrastruktur digital.

“Di banyak daerah, jangan bicara dulu soal aplikasi atau AI. Buku masih menjadi alat literasi paling efektif. Ketika buku hadir, anak-anak justru menunjukkan antusiasme yang luar biasa,” katanya.

Aminudin menambahkan, sinergi antara literasi konvensional dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, tanpa kehilangan akar budaya dan kemampuan berpikir kritis di tengah arus digitalisasi. (rhm/hab)

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Komdigi Pastikan PP Tunas untuk Lindungi Anak dari Risiko Digital

17 April 2026 - 12:14 WIB

Salak Heritage Club Sambangi MPR RI, Bahas Pelestarian Sejarah

16 April 2026 - 12:11 WIB

Waspada Penipuan, Dirlantas Polri Pastikan Pemutihan Pajak Motor 2026 Gratis Hoaks

16 April 2026 - 11:54 WIB

Jatuh Korban Jiwa di Proyek Karian Dam-Serpong Water, BCW : Usut Tuntas

15 April 2026 - 12:51 WIB

Kasus Sri Rahayu Mengguncang Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana Janji Investigasi

15 April 2026 - 12:48 WIB

Kepala BGN Dadan Tegaskan Pengadaan Barang Secara Transparan

14 April 2026 - 17:00 WIB

Trending di Nasional