JAKARTA | Harian Merdeka
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) E. Aminudin Aziz menegaskan peran strategis literasi di era akal imitasi (AI) dalam membentuk calon pemimpin nasional yang kritis, kreatif, dan adaptif di tengah cepatnya perubahan global.
Menurut Aminudin, perkembangan teknologi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, kemajuan tersebut tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir manusia. Justru, fondasi berpikir kritis harus diperkuat melalui peningkatan literasi agar teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kalah cepat dengan kecerdasan buatan. Literasi harus menjadi fondasi agar teknologi dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab,” kata Aminudin dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Aminudin menilai rendahnya tingkat literasi di Indonesia tidak semata-mata disebabkan oleh minimnya minat baca. Ia menekankan bahwa keterbatasan akses terhadap bahan bacaan yang relevan dengan kebutuhan dan minat masyarakat juga menjadi faktor penting.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Perpusnas saat ini mengelola lebih dari 9,7 juta eksemplar koleksi, yang mencakup buku cetak, majalah, peta, monograf, bahan audiovisual, buku digital, hingga koleksi deposit nasional yang berfungsi sebagai rekaman pengetahuan dan sejarah bangsa.
Selain penguatan literasi baca-tulis, Perpusnas juga memanfaatkan teknologi akal imitasi (AI) untuk mendukung pelestarian bahasa daerah. Dengan jumlah lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia, beberapa di antaranya kini berada dalam kondisi terancam punah. Sejak tahun 2021, Perpusnas telah mengembangkan program pendokumentasian bahasa daerah berbasis teknologi digital.
“Bahasa daerah tidak boleh tiba-tiba hilang. Data kebahasaan harus dikumpulkan, direkam, dan didukung teknologi agar bisa diwariskan lintas generasi,” ujar Aminudin.
Meski demikian, Aminudin menegaskan bahwa penguatan literasi nasional tidak boleh sepenuhnya bergantung pada teknologi digital. Perpusnas tetap memprioritaskan penyediaan buku cetak, khususnya bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap infrastruktur digital.
“Di banyak daerah, jangan bicara dulu soal aplikasi atau AI. Buku masih menjadi alat literasi paling efektif. Ketika buku hadir, anak-anak justru menunjukkan antusiasme yang luar biasa,” katanya.
Aminudin menambahkan, sinergi antara literasi konvensional dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, tanpa kehilangan akar budaya dan kemampuan berpikir kritis di tengah arus digitalisasi. (rhm/hab)







