Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Politik · 21 Feb 2026 20:21 WIB ·

Pengamat Nilai Surya Paloh Masih Jaga Manuver Politik Jelang Pilpres 2029


Pengamat Nilai Surya Paloh Masih Jaga Manuver Politik Jelang Pilpres 2029 Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Wacana pembentukan koalisi permanen antarpartai politik kembali mengemuka setelah Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menyatakan usulan tersebut boleh dipertimbangkan, meski belum ada keputusan final. Pernyataan itu dinilai memunculkan dinamika baru di antara partai-partai pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pengamat politik dan Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago, menilai sikap Surya Paloh masih bersifat normatif dan penuh kalkulasi.

“Pernyataan itu menunjukkan bahwa NasDem membuka ruang untuk konsolidasi, tetapi belum ingin mengunci komitmen jangka panjang. Ini langkah menjaga fleksibilitas politik,” ujar Arifki, Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, dalam sistem multipartai seperti Indonesia, istilah “koalisi permanen” tidak sesederhana dukungan jangka panjang kepada pemerintah. Koalisi yang dikunci terlalu dini justru berpotensi mempersempit ruang manuver partai menjelang Pilpres 2029.

“Stabilitas memang penting bagi pemerintahan. Namun partai tetap harus memperhitungkan masa depan elektoralnya. Koalisi permanen berarti ada konsekuensi terhadap peluang pencalonan presiden dan wakil presiden,” katanya.

Arifki menjelaskan, di satu sisi koalisi permanen dapat memperkuat konsolidasi kekuasaan dan meminimalkan gesekan politik. Namun di sisi lain, hal tersebut berpotensi mengurangi dinamika dan ruang manuver politik partai menjelang Pilpres 2029.

“Kalau mayoritas partai besar berada dalam satu blok permanen, maka kontrol politik bisa berkurang. Tantangannya NasDem atau partai lain yang belum mendukung takut terkunci, terutama dalam penetuan cawapres Prabowo di Pilpres 2029,” ujarnya.

Ia juga menilai sejumlah partai menghadapi dilema strategis. Partai Demokrat, misalnya, disebut berada dalam posisi yang tidak mudah apabila harus mengunci dukungan terlalu awal, karena tak ada jaminan AHY untuk menjadi cawapres. Begitu pula dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang masih dinilai mempertimbangkan figur dengan efek elektoral kuat seperti Anies Baswedan.

Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga dinilai memiliki kepentingan menjaga peluang politiknya sendiri. Jika masuk dalam skema koalisi permanen, ruang manuver elite dan kader potensial menuju kontestasi mendatang bisa menjadi lebih terbatas.

Menurut Arifki, apabila koalisi permanen benar-benar terbentuk, partai-partai harus siap menerima konsekuensi atas keputusan figur yang diusung pada Pilpres 2029, termasuk terkait posisi calon wakil presiden.

“Koalisi permanen bisa menciptakan stabilitas, tetapi juga memicu kompetisi internal yang lebih intens. Pertarungan politik bisa bergeser dari antar-koalisi menjadi di dalam koalisi itu sendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada akhirnya wacana koalisi permanen akan sangat ditentukan oleh kepentingan strategis masing-masing partai dan perkembangan situasi politik ke depan.

“Dalam politik, momentum dan kepentingan selalu menjadi faktor utama. Selama koalisi dianggap memberi manfaat kekuasaan dan elektoral, peluangnya terbuka. Namun jika dirasa membatasi, saya melihat partai-partai akan melakukan evaluasi,” pungkas Arifki.(Agus).

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

​Bantah Isu Gabung Gerindra, Arif Rahman: NasDem Bukan PT Tbk, Kami Punya Mandat Rakyat

14 April 2026 - 17:02 WIB

Kinerja Jeblok, Menteri Pariwisata Didesak Masuk Kotak Reshuffle

14 April 2026 - 14:15 WIB

Di Tengah Wacana Merger Gerindra–NasDem, Nasib Anies Baswedan di 2029 di Ujung Persimpangan

14 April 2026 - 14:10 WIB

​Analisis IndexPolitica: Transformasi PKN Menuju Partai Akar Rumput

13 April 2026 - 13:28 WIB

Jawab Pengunduran Kader PKN, Denny Charter : Kami Fokus 2029

12 April 2026 - 21:23 WIB

SIAGA 98 Tolak Ajakan Saiful Mujani Untuk Menjatuhkan Prabowo Subianto

8 April 2026 - 16:15 WIB

Trending di Politik