Menu

Mode Gelap
Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi Isra Miraj Jadi Momentum Pertobatan Ekoteologis, Menag Ajak Umat Berhenti Merusak Alam

Politik · 30 Des 2025 10:56 WIB ·

Gerindra Dukung Pilkada Lewat DPRD, Pengamat: PDIP–Demokrat Ikut Bersatu atau Buat Sekutu Baru!


Gerindra Dukung Pilkada Lewat DPRD, Pengamat: PDIP–Demokrat Ikut Bersatu atau Buat Sekutu Baru! Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Dukungan Gerindra terhadap Wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD dinilai kian menunjukkan arah konsolidasi elite partai besar.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia melihat dorongan yang datang dari Partai Gerindra bersama Partai Golkar, PKB, dan PAN bukan hanya soal perubahan sistem, tetapi sepertinya penataan ulang peta kekuasaan di daerah.

Menurut Arifki, skema pilkada lewat DPRD secara struktural menguntungkan partai besar yang memiliki kursi dan jaringan fraksi kuat, sekaligus merugikan partai kecil yang selama ini mengandalkan popularitas figur dan dukungan langsung pemilih.

“Dalam pilkada langsung, partai kecil masih punya ruang lewat figur kuat atau koalisi cair. Kalau lewat DPRD, ruang itu menyempit drastis. Politiknya menjadi eksklusif,” ujar Arifki Senin (29/12/2025).

Situasi ini juga menempatkan PDI Perjuangan dan Partai Demokrat pada posisi yang tidak ringan. Tanpa membangun poros baru, keduanya berisiko berhadapan dengan blok besar yang sudah lebih dulu mengunci arah pembahasan.

PDI-P dan Demokrat harus bertemu dengan NasDem, PKS, dan partai kecil lainnya jika ingin punya taring dalam pembahasan RUU pemilu di tahun 2026.

Arifki menilai, potensi Pilkada lewat DPRD bakal berpotensi lolos. Sejauh ini, sikap PDI-P dan Demokrat yang menolak juga terkesan angin-anginan. Demokrat yang bergabung sebagai bagian dari koalisi pemerintah, tentu bakal dinilai punya narasi yang berbeda jika kencang menolak wacana ini.

PDI-P pun sama, karena sikapnya sebagai pendukung pemerintahan Prabowo diluar kabinet masih dinilai ambigu.

” PDI-P dan Demokrat juga tak punya resistensi yang kuat soal penolakan Pilkada lewat DPRD. Apalagi dalam membentuk sekutu baru, antara PDI-P dan Demokrat masih terkesan jalan sendiri-sendiri, “ungkapnya.

Jika pilkada lewat DPRD benar-benar diterapkan, maka kompetisi politik akan bergeser dari arena publik ke ruang tertutup parlemen. Yang paling terdampak bukan hanya calon independen, tapi juga partai kecil yang kehilangan daya tawar.

Ia menambahkan, wacana ini memperlihatkan wajah politik yang makin elitis.

Penentuan kepala daerah bakal selesai di level pimpinan pusat partai. Untuk menempatkan kader partai yang menjadi kepala daerah, maka sesama partai melakukan barter daerah untuk mendapatkan kesepakatan.

Dalam konfigurasi seperti ini, partai kecil dan yang tidak punya poros akan menjadi korban pertama,” pungkasnya.(Agus Irawan).

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

​ANFREL: Revolusi Gen Z di Bangladesh Jadi Simbol Kebangkitan Demokrasi Asia

15 Februari 2026 - 01:53 WIB

​Pastikan Proyek Tepat Waktu, Hardiyanto Kenneth Tinjau Langsung Proyek Flyover Grogol

14 Februari 2026 - 21:57 WIB

​Prabowo Beri Peringatan Keras: Jangan Pakai Hukum untuk ‘Ngerjain’ Lawan Politik!

14 Februari 2026 - 21:38 WIB

​PDIP Ingatkan Pemerintah: BPJS Itu Jaminan Sosial, Bukan Bisnis Asuransi Swasta

14 Februari 2026 - 21:11 WIB

​Jadikan Putusan DKPP sebagai Bukti, KPU Bogor Kini Dibidik Kejaksaan Agung

14 Februari 2026 - 21:00 WIB

Konflik PAW NasDem di Sulsel Kian Panas, Fatmawati Rusdi Diadukan ke Polisi

13 Februari 2026 - 16:38 WIB

Trending di Politik