JAKARTA | Harian Merdeka
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau semakin menggila. BNPB menetapkan status tanggap darurat, bukan siaga darurat.
Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, langsung mengecek sendiri parahnya bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Propinsi Riau. Jenderal bintang tiga ini bahkan terang-terangan menyindir Pemerintah Provinsi Riau: Mestinya, statusnya sudah naik dari Siaga Darurat ke Tanggap Darurat!
Suharyanto membuka obrolan dengan mengungkap data bencana nasional. Tercatat, sudah 1.930 kali bencana cuaca ekstrem melanda Indonesia. Sementara itu, bencana karhutla sudah tembus 215 kali.
“BNPB mencatat untuk kebakaran hutan dan lahan 215 kali bencana. Dan kelihatannya 6 provinsi prioritas, Riau ini paling banyak. Seharusnya sudah status tanggap darurat, bukan siaga darurat lagi,” ujar Suharyanto lugas di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, Senin (21/7).
Menurutnya, jika status sudah naik menjadi Tanggap Darurat, pemerintah pusat bisa lebih leluasa mengucurkan bantuan, terutama untuk logistik penanganan karhutla di 12 kabupaten/kota di Riau. Ini penting, karena api sudah menjalar ke mana-mana.
“Karena sudah terjadi bencana. Kenapa harus tanggap darurat? Supaya pemerintah pusat leluasa memberikan bantuan kepada pemerintah daerah. Untuk data kami, 12 kabupaten kota di Riau ini sudah terjadi karhutla, bervariasi,” katanya.
Suharyanto merasa gemas saat menyinggung keberhasilan Riau mengendalikan karhutla di tahun 2023. Padahal, tahun ini harusnya lebih mudah. Peta cuaca menunjukkan Riau masih relatif basah.
“Kalau 2023 saja bisa, masa tahun ini kita tidak bisa? Tahun ini seharusnya ini lebih kecil karena cuaca masih relatif basah dan daerah lain masih banjir,” kata Suharyanto.
Meski begitu, ia mengakui, curah hujan di Sumatera, khususnya Riau, memang sudah masuk puncak musim kemarau. “Kalau terjadi kebakaran di mana-mana, khususnya di Riau ya memang sudah masuk kemarau walaupun cukup pendek,” imbuhnya.
Saat ini, BNPB juga tak berhenti berupaya di lapangan. Terutama dengan modifikasi cuaca yang sudah digeber sejak Mei hingga Juli ini. “Mudah-mudahan sudah ada embung-embung air, lahan gambut tidak terlalu kering,” harap Suharyanto.
Sementara itu, dampak kebakaran hutan dan lahan di Riau membuat Malaysia waspada. Pasalnya negari jiran dipenuh kabut asap. Sebagian besar asap kiriman dari dari Pulau Sumatera, Indonesia. Ini bukan kali pertama, dan nampaknya jadi masalah tahunan yang tak kunjung usai.
Asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu terdeteksi masuk ke sejumlah wilayah di Malaysia. Ibarat tamu tak diundang, kehadirannya makin membesar berkat faktor cuaca seperti musim kemarau dan tiupan angin kencang.
Warga Malaysia tentu saja resah. Kabut asap ini bukan cuma ancaman kesehatan pernapasan, tapi juga momok di jalanan. Jarak pandang yang memendek drastis bisa memicu kecelakaan. Bahaya!
Sumber utama asap ini? Sudah bisa ditebak. Tak lain dan tak bukan dari karhutla di Indonesia, khususnya di Kabupaten Rokan Hilir dan Rokan Hulu, Provinsi Riau. Dua wilayah ini memang jadi ‘langganan’ penyumbang asap yang bikin tetangga ikut sesak.
Masalah asap lintas batas ini memang kerap bikin hubungan Indonesia dengan negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand jadi tegang. Sebuah ‘hadiah’ yang tak pernah diharapkan dari negeri tetangga.
Asap pekat hasil kebakaran yang mengganggu Malaysia ini ternyata menjadi sorotan media asing.
Dalam pemberitaan berjudul Forest Fire Haze from Indonesia Detected in Malaysia, yang dikutip Senin (21/7), Associated Press menyebut kebakaran hutan dan lahan gambut merupakan masalah tahunan di Indonesia yang membebani hubungan dengan negara-negara tetangga.
“Dalam beberapa tahun terakhir, asap dari kebakaran tersebut telah menyelimuti sebagian wilayah Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand bagian selatan,” tulis Associated Press.
Adapun media Malaysia, Malay Mail, menyampaikan keluhan dari warga negeri jiran itu. Dalam artikel bertajuk Unhealthy Air Quality in Peninsular Malaysia Doubles to Eight Areas in 24 Hours, Malay Mail melaporkan bagaimana kualitas udara di Semenanjung Malaysia memburuk drastis. (jr)







