Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Politik · 25 Nov 2025 12:37 WIB ·

Pengamat: PSI vs PDIP: Dua Pengemudi dalam Jalur Politik yang Semakin Sempit


Pengamat: PSI vs PDIP: Dua Pengemudi dalam Jalur Politik yang Semakin Sempit Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Direktur Eksekitif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai perang wacana atau saling sindir antara politisi PSI, Ahmad Ali dan politisi PDIP, Guntur Romli mencerminkan persaingan dua kekuatan politik yang sedang berebut ruang dalam jalur politik nasional yang makin sempit.

Hal ini bukan hanya soal perbedaan ideologi atau preferensi tokoh yang berbeda, tetapi soal siapa yang lebih dulu menguasai perhatian publik.

“Pertarungan wacana PSI–PDIP sekarang ibarat dua pengemudi yang masuk ke satu jalur sempit. Kedua partai ini tak bisa dipungkiri memiliki ceruk pemilih yang sama. Jika PSI saat ini punya icon Jokowi, PDI-P sudah sejak lama punya Megawati. Namun, sesuatu yang tak bisa dipungkiri adalah dulu Jokowi adalah kader PDI-P, ” jelas Arifki kepada Harian Merdeka, Selasa (25/11/2025).

Menurutnya, gesekan muncul bukan karena salah satu pihak berada di jalur yang keliru, tetapi karena ruang manuver yang direbut adalah ruang yang sama: ceruk pemilih nasionalis, pemilih muda, dan publik digital yang semakin menentukan arah politik nasional kedepannya.

Apalagi saat ini, momentum partai-partai sedang merapikan struktur politiknya.

Pakar politik ini menambahkan bahwa gaya komunikasi kedua partai semakin mempertegas metafora itu. PSI memainkan strategi akselerasi, serangan cepat, satir, dan memancing viralitas. PDIP yang sudah punya kelembagaan yang kuat dan tradisional, sekarang juga ikut bermain dengan narasi sama agar tidak dinilai pasif

“Di jalur sempit seperti itu, setiap manuver punya risiko. PSI sesekali menggeser ke kiri untuk menyalip narasi lama, sementara PDIP mencoba mempertahankan laju dengan ikut melakukan serangan balik. Ketika keduanya bergerak di ruang yang sama, benturan wacana hampir tak terhindarkan,” katanya.

Arifki menilai kondisi ini merupakan tanda bahwa peta politik Indonesia sedang mengalami demam perubahan. Jalur politik yang dulu lapang—dengan partai-partai besar menentukan arah—kini menyempit karena publik digital menjadi wasit baru. Momentum, bukan hanya mesin partai, mulai menentukan siapa yang berpengaruh.

“Ruang wacana kini dikendalikan oleh kecepatan respons dan kemampuan membangun simbol. Siapa yang terlambat, tersalip. Siapa yang terlalu cepat, bisa kehilangan kontrol. Karena itu duel PSI vs PDIP lebih dari sekadar saling sindir: ini kompetisi untuk memegang kemudi opini publik,” katanya.

Ia menegaskan bahwa ke depan, partai politik perlu memahami bahwa jalur politik tidak akan melebar. Justru akan makin padat, makin bising, dan makin kompetitif karena publik memiliki akses penuh untuk merespons setiap narasi.

“Pertarungan PSI dan PDIP ini bisa dibaca sebagai prolog dari dinamika yang lebih besar. Jika dua kendaraan saja sudah bersenggolan, bayangkan ketika lebih banyak aktor politik mulai masuk ke jalur yang sama. Kontestasi wacana akan menjadi medan utama menuju 2029,” tutup Arifki.(Agus Irawan).

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Matahukum Bedah Dua Wajah Nanik Deyang: Menangis tapi Suka Blokir Wartawan

1 Mei 2026 - 20:06 WIB

Menteri Hukum RI Bertemu Firman Jaya Daeli, Bahas Penguatan Negara Hukum Indonesia

28 April 2026 - 16:50 WIB

Honeymoon Selesai, Begini Rapor 1,5 Tahun Prabowo-Gibran Versi Survei IndexPolitica

21 April 2026 - 20:16 WIB

Pesawaran Bersinar di Rakorwil PSI Lampung: Diganjar Hadiah Khusus dari Ketum Kaesang

21 April 2026 - 12:16 WIB

Direktur P3S : Cari Aman dalam TPPU, Ahmad Ali Hijrah ke PSI

21 April 2026 - 12:08 WIB

Godok Revisi UU Advokat, Kongres Advokat Indonesia : Tidak Ada Lagi Wadah Tunggal

21 April 2026 - 11:49 WIB

Trending di Politik