JAKARTA | Harian Merdeka
Industri Pertambangan nasional tidak bisa bergantung pada kekayaan sumber daya saja, namun perlunya memperkuat kecerdasan digital serta kemandirian teknologi demi menghadapi pasar global.
Pengamat ekonomi Universitas Trisakti, Willy Arafah menilai bahwa Industri Pertambangan Indonesia harus menjadi yang terdepan dalam mengahadapi transformasi era digitalisasi.
“Era digitalisasi mengubah paradigma industri pertambangan dari sekadar “pengeruk sumber daya” menjadi penyedia material strategis bagi masa depan,” kata Willy kepada Harian Merdeka, Senin (26/1/2026).
Willy mengatakan, Indonesia sebagai penyokong transisi energi, industri ini memasok bahan baku baterai kendaraan listrik dan infrastruktur energi bersih.
Selain itu, kata Willy, adopsi teknologi seperti IoT dan AI menjadi motor penggerak hilirisasi yang meningkatkan nilai ekonomi nasional.
“Kini, operasional tambang pun lebih transparan melalui pemantauan lingkungan secara langsung (real-time) sesuai dengan standar global ESG,” ucap Willy
Saat ditanyakan soal tantangan industri pertambangan di era digitalisasi?.
” Adopsi teknologi 4.0 di sektor pertambangan Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait keterbatasan infrastruktur konektivitas dan listrik di lokasi tambang yang terpencil,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, tingginya biaya investasi awal untuk perangkat digital serta risiko ancaman siber menjadi kendala strategis bagi operasional.
” Tantangan ini kian kompleks dengan adanya kesenjangan kompetensi tenaga kerja lokal yang belum sepenuhnya siap mengoperasikan teknologi mutakhir tersebut,” bebernya.
Guru besar manajemen Trisakti ini menjelaskan era digitalisasi mengubah paradigma industri pertambangan dari sekadar “pengeruk sumber daya” menjadi penyedia material strategis bagi masa depan.
Sebagai penyokong transisi energi, industri ini memasok bahan baku baterai kendaraan listrik dan infrastruktur energi bersih.
Selain itu, adopsi teknologi seperti IoT dan AI menjadi motor penggerak hilirisasi yang meningkatkan nilai ekonomi nasional.
” Kini, operasional tambang pun lebih transparan melalui pemantauan lingkungan secara langsung (real-time) sesuai dengan standar global ESG,” ucap nya.
Tak hanya itu, Era digitalisasi mengubah paradigma industri pertambangan dari sekadar “pengeruk sumber daya” menjadi penyedia material strategis bagi masa depan. Sebagai penyokong transisi energi, industri ini memasok bahan baku baterai kendaraan listrik dan infrastruktur energi bersih.
Selain itu, adopsi teknologi seperti IoT dan AI menjadi motor penggerak hilirisasi yang meningkatkan nilai ekonomi nasional.
Kini, operasional tambang pun lebih transparan melalui pemantauan lingkungan secara langsung (real-time) sesuai dengan standar global ESG.
Menurut dia,Teknologi hanyalah alat, manusialah yang menjadi penggerak utamanya. Agar teknologi digital bermanfaat, para pekerja harus dilatih ulang agar mahir mengoperasikan sistem terbaru.
Tak hanya itu, perusahaan juga perlu membangun suasana kerja yang positif agar karyawan tidak takut pada perubahan, melainkan merasa terbantu. Selain itu, kerja sama dengan universitas sangat penting untuk memastikan ilmu di sekolah sesuai dengan kebutuhan tambang modern.
“Pihak manajemen pun harus menjalin komunikasi yang jujur agar pekerja paham bahwa teknologi bertujuan untuk keselamatan kerja, bukan untuk memecat karyawan,” jelasnya.
Dia menegaskan, jika rencana ini berhasil, pertambangan Indonesia akan semakin maju dan mampu bersaing di tingkat dunia. Produk tambang kita akan memiliki harga yang lebih bersaing karena proses kerja yang jauh lebih hemat. Teknologi juga memudahkan pengolahan bahan mentah menjadi barang siap pakai secara lebih cepat. Yang paling penting, alam akan lebih terjaga karena lingkungan dipantau secara ketat menggunakan sistem komputer.
” Singkatnya, digitalisasi adalah jalan utama untuk mengubah tambang tradisional menjadi industri modern yang bersih, aman, dan efisien,” pungkasnya.
Keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada keseimbangan antara penggunaan mesin yang canggih dan kemampuan pekerja yang hebat.
“Sinergi inilah yang akan membawa Indonesia menjadi pemimpin tambang di masa depan,” tutupnya. (Agus).







