Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Bisnis · 24 Jun 2025 15:15 WIB ·

Ritel Modern dan Mal Terpuruk, Kemendag Ungkap Pergeseran Pola Belanja Jadi Pemicu


Ritel Modern dan Mal Terpuruk, Kemendag Ungkap Pergeseran Pola Belanja Jadi Pemicu Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Kementerian Perdagangan RI mengungkap sejumlah faktor penyebab tumbangnya ritel modern hingga pusat perbelanjaan Indonesia yang terjadi beberapa tahun ini.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui banyak ritel modern hingga pusat perbelanjaan yang angka okupansinya telah menurun tajam. Penyebab pertama, pergeseran pola belanja dan konsumsi masyarakat.

Ia menjelaskan, masyarakat tidak lagi melakukan belanja bulanan seperti dahulu. Pola belanja masyarakat berubah menjadi mingguan atau beberapa hari sekali. Hal ini membuat masyarakat lebih memilih belanja ke ritel kecil di sekitar rumah.

“Dari tahun 2003 itu 88%, sekarang atau tahun 2024 itu 80%, menurun sekitar 9%. Nah, ini banyak penyebabnya, pertama pola belanja masyarakat itu mulai berubah dari yang belanja bulanan kemudian dua mingguan atau mingguan menjadi belanja harian atau seperlunya, sehingga yang berkembang adalah ritel-ritel di sekitar rumah,” ujar Budi dalam Profit Economic Update dikutip dari YouTube CNBC Indonesia, Senin (23/6).

Kedua, banyak ritel modern dan mal hanya menyediakan tempat berbelanja. Dengan pergeseran pola belanja saat ini, diyakini akan ditinggalkan masyarakat.

“Orang atau konsumen itu ke mal kan tidak hanya sekadar belanja, beli kebutuhan sehari-hari, tidak hanya sekadar itu. Tapi ingin, makan bareng, ingin kumpul-kumpul dengan temannya. Nah itu kalau tidak ada perubahan seperti itu, maka mereka (mal) juga akan tertinggal,” ungkapnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Budi telah melakukan pertemuan dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO).

Hasil pertemuan tersebut, Budi mengatakan semua tempat perbelanjaan baik ritel maupun mal tidak bisa menutup mata dengan pergeseran pola belanja masyarakat, terutama cenderung belanja online. Ia menyarankan beberapa hal, pertama, tempat perbelanjaan ritel dan mal harus bertransformasi atau berkolaborasi dengan platform online.

Kedua, ritel modern atau mal bisa menggandeng pasar tradisional untuk berkolaborasi dari sisi penjualan online. Hal ini perlu dilakukan untuk menurunkan daya saing antara ritel modern dengan pasar tradisional.

“Jadi, ritel modern mengajari bagaimana berjualan dengan baik, manajemennya termasuk keuangannya. Nah, sekarang mereka tidak berkompetisi lagi, tetapi bersinergi satu dengan yang lain,” pungkasnya. (jr)

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kemendag: Penguatan Dolar AS Tekan HPE dan HR Emas Periode I Juni 2026

2 Juni 2026 - 10:06 WIB

CBA Sebut Penghapusan Tantiem BUMN Cuma Omon-Omon: BRI Masih Bagi Ratusan Miliar

28 Mei 2026 - 15:00 WIB

Dampingi Wakil Gubernur Provinsi Hebei China Bertemu Menko Perekonomian RI, Bamsoet Dorong Investor China Bangun Data Center di Indonesia

26 Mei 2026 - 19:28 WIB

Kemendag Kawal Kelancaran Ekspor Makanan Siap Saji untuk Jamaah Haji 1447 H

23 Mei 2026 - 10:53 WIB

Perkuat Perlindungan Konsumen Digital, Kemendag Minta Klarifikasi Pengaduan terhadap Shopee

21 Mei 2026 - 11:56 WIB

Era Baru Manajemen Proyek Indonesia: Dari Sertifikasi Menuju Eksekusi Strategis

20 Mei 2026 - 15:07 WIB

Trending di Bisnis