JAKARTA | Harian Merdeka
Lembaga survey Timur Barat Research Center (TBRC) kembali melakukan survei terkait setahun program MBG Presiden Prabowo
Zaenal Abidin, M.I.Kom
Direktur Eksekutive Timur Barat Research Center mengatakan,
survei ini digelar dari 11-21 Februari 2026 di 458 Kabupaten Kota di Indonesia Dengan jumlah responden sebanyak 1802 responden tersebar secara proposional
Zaenal menyebutkan,responden terpilih merupakan warga negara Indonesia dari orang tua murid-murid sekolah penerima program MBG.
“Dimana sesuai data Badan Gizi Nasional Ada 59,86 Juta Penerima MBG di Awal 2026,” kata Zaenal Abidin, Sabtu (28/2/2026).
Zaenal menyebutkan, survei ini memiliki Tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error +/_ 2,31%
Hasil temuan survei didapati sebanyak 79,4% responden sangat mengetahui adanya program MBG untuk anak anak sekolah dan sebanyak 12,2% tahu adanya program MBG untuk anak anak sekolah kemudian sebanyak 3,1% tidak tahu 5,3% tidak menjawab
“Temuan survei sebanyak 82,2% menyatakan sangat puas dengan program MBG untuk anak anak Mereka dan sebanyak 12,6 tidak puas sedangkan sebanyak 5,2% tidak menjawab ,” jelasnya.
Tak hanya itu, temuan survei juga mendapati bahwa sebanyak 74,6% responden tidak tahu dan tidak melihat menu dan jenis makanan yang diberikan untuk program MBG pada anak anak mereka dan sebanyak 3,7% responden kurang tahu sedangkan 16,3% tahu dan melihat dan 5,4 tidak menjawab
“Pengaruh Program MBG pada Ekonomi Rumah Tangga Masyarakat hasil survei menunjukan sebagai berikut,” terangnya.
Bahwa sebanyak 84,3% Program MBG di Sekolah mempengaruhi secara positif pada ekonomi Rumah tangga responden, dan sebanyak 11,3% menyatakan biasa saja dan 4,4% tidak menjawab.
Dari temuan survei di dapati bahwa 64,3% responden menyatakan akibat program MBG, pengeluaran rumah tangga Mereka setiap bulan menurun hingga 10-20 % dari pengeluaran RT Mereka dan sebanyak 31,4% responden akibat program MBG, pengeluaran rumah tangga Mereka setiap bulan menurun hingga 5+10 % dan 4,3% responden tidak menjawab
Menurut dia, sebanyak 60,3% responden menyatakan pendapatan rumah tangga mereka meningkat dan membaik dengan adanya program MBG sedangkan 33,1% menyatakan pendapatan rumah tangga mereka biasa saja atau stabil dan sebanyak 6,6% tidak menjawab
Terkait mutu dan kualitas. alitas makanan yang disajikan dalam program MBG pada Murid Murid disekolah
“Sebanyak 60,2% persen responden menyatakan harus diperbaiki dan ditingkatkan mutu dan Kualitas nya ,sebanyak 30,7% menyatakan cukup bermutu dan berkualitas untuk Gizi anak dan sebanyak 9,1% tidak menjawab ,” bebernya.
Sementara itu, banyak 85,7% responden menyatakan dalam pemilihan dan penyediaan makanan dan mutu serta Kualitas MBG harus melibatkan para Guru dan orang tua murid dan sebanyak 7,1% responden menyatakan tidak perlu dilibatkan dan 7,2 % tidak menjawab
Terkait keikutsertaan POLRI dan TNI dalam mensukseskan Program MBG dengan membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) temuan survei menyatakan sebanyak 88,7% responden setuju dan mendukung dan sebanyak 7,2% responden tidak setuju dan tidak mendukung dan 4,1% tidak menjawab
Sebanyak 90,1 responden menyatakan bahwa mutu dan Kualitas makanan untuk MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri dan TNI sangat baik dan sebanyak 5,1% menilai biasa saja dan sebanyak 4,8% tidak menjawab
Terkait dukungan masyarakat pada program MBG sebanyak 89,7% mendukung untuk di lanjutkan dan tidak boleh dihentikan
Sebanyak 6,1% dan sebanyak 4,2% tidak menjawab
Sebanyak 90,4% responden menyatakan program MBG harus dimasukan dalam program program pendidikan dan di Undang undangkan sebanyak 4,4% responden menyatakan tidak perlu dan sebanyak 5,2% tidak menjawab
Lebih jauh dia menjelaskan, dari temuan survey bahwa program MBG Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program makan gratis, melainkan sebuah strategi ekonomi dan juga kebijakan pembangunan manusia dan MBG menjadi instrumen strategis pertumbuhan ekonomi nasional
Dimana Ketika produktivitas naik, katanya, maka pendapatan masyarakat meningkat. Ketika pendapatan meningkat, konsumsi ikut terdorong dan ketika konsumsi menguat, roda ekonomi bergerak lebih cepat.
“MBG merupakan investasi pada kualitas sumber daya manusia, pada kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang,”ucapnya.
Dimana gizi yang cukup pada usia sekolah terbukti meningkatkan konsentrasi belajar, memperbaiki kehadiran di kelas, dan memperkuat perkembangan kognitif. Dalam jangka panjang, efek tersebut bermuara pada peningkatan produktivitas tenaga kerja.(Agus).





