JAKARTA | Harian Merdeka
Tangan pilot militer Amerika Serikat terborgol. Wajahnya yang tegang terekam jelas, dan kamera ponsel terus merekam setiap detik.
Di balik ketegangan itu, seorang pilot wanita, bersuara lantang. Ia dengan tegas menolak tugas menerbangkan pesawat yang penuh senjata menuju Israel. Semua senjata itu, katanya, akan digunakan untuk genosida terhadap warga Palestina.
Pilot itu meronta-ronta. Adegan dramatis ini terekam jelas dalams ebuah video hingga membuat viral di media sosial. Ribuan warganet langsung membanjiri kolom komentar, menghubungkan pernyataan pilot itu dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam genosida di Gaza.
kata Genosida, berulang kali muncul, menjadi simbol perlawanan moral terhadap agresi militer zionis yang menelan korban sipil.
Rekan pilot lainnya, juga menyuarakan kemarahan. Ia menyebut dirinya mali pada pemerintah karena dianggap membantu pembantaian terhadap anak-anak Palestina. “Stop the boom” katanya berulang-ulang. Ia lakukan sebagai mantra menolak misi militer yang ditugaskan kepadanya.
Saksi di lokasi merekam pula tuduhan bahwa kongres dan senat Amerika Serikat turut mendanai “bom itu”. Tuduhan ini dengan cepat menjadi perdebatan politik. Sehingga memunculkan kembali kritik lama terkait peran Amerika Serika dalam mendukung operasi militer Israel.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi secara resmi yang memverifikasi kebenaran klaim tersebut. Tak ada bukti pasti bahwa pesawat itu memang membawa senjata atau kedua pilot itu benar-tebar ditugaskan untuk misi ke Israel. Pihak militer AS pum belum merilis pernyataan resmi, baik membenarkan maupun membantah tuduhan.
Video viral itu akhirnya memantik gelombang diskusi global. Ada yang melihatnya sebagai bentuk keberanian moral seorang prajurit yang menolak perintah demi hati nurani.
Bagi yang pro AS dan ‘Israel’, mereka menganggapnya propaganda, rekayasa untuk memperkuat persepsi bahwa AS adalah aktor utama di balik penderitaan rakyat Palestina.
Mengutip Anadolu pada 1 Januari 2025, Stockholm International Peace Research Institute mengungkap Amerika Serikat (AS) menghabiskan lebih dari USD22 miliar (sekitar Rp356,8 triliun) untuk mendukung operasi militer ‘Israel’, termasuk di Gaza, Lebanon, dan Suriah Sejak 7 Oktober 2023.
AS memasok 69 persen kebutuhan senjata Israel periode 2019–2023. Angka itu meningkat menjadi 78 persen pada akhir 2023. Hingga Desember 2023, AS telah mengirimkan lebih dari 10 ribu ton senjata senilai USD2,4 miliar atau sekitar Rp38,9 triliun.
Jumlah itu naik jadi 50 ribu ton pada Agustus 2024, yang diangkut melalui ratusan pesawat dan kapal. Sebagai sekutu terbesar ‘Israel’, AS telah menyediakan berbagai perlengkapan militer canggih, termasuk rudal untuk sistem pertahanan Iron Dome, bom presisi, helikopter angkut berat CH-53, helikopter serang AH-64 Apache, peluru artileri 155mm, amunisi penghancur bunker, dan kendaraan lapis baja.
Menurut Dewan Hubungan Luar Negeri, sebuah lembaga kajian di Amerika Serikat, Washington sejak 1946 telah memberikan lebih dari USD310 miliar (sekitar Rp5 kuadriliun) bantuan militer dan ekonomi kepada ‘Israel’.
Perjanjian bantuan militer senilai USD38 miliar (sekitar Rp616,2 triliun) yang ditandatangani pada 2016 dengan alokasi USD3,8 miliar (sekitar Rp61,6 triliun) per tahun untuk pembiayaan militer asing dan pertahanan rudal. Paket darurat pada 2024 menambahkan miliaran dolar lagi, termasuk USD14,1 miliar (Rp228,6 triliun) yang disetujui pada Februari dan pengiriman senjata senilai USD2,5 miliar (sekitar Rp40,5 triliun) pada Maret.
Selain bantuan militer, catatan sejarah menunjukkan, dari tahun 1970 hingga 2024, Amerika Serikat telah menggunakan hak vetonya sebanyak 87 kali, 49 kali di antaranya untuk melindungi ‘Israel’. Hal ini jelas menunjukkan bahwa hak veto telah menjadi alat untuk melumpuhkan keadilan, alih-alih menegakkannya.
Kelanjutan kebijakan ini dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan tekad Washington untuk melindungi ‘Israel’, bahkan dengan mengorbankan hak-hak warga sipil Palestina dan menghentikan pertumpahan darah di Gaza. (jr)




