JAKARTA | Harian Merdeka
Penelitian terbaru dari Monash University mengungkap anak laki-laki yang tinggal di permukiman informal di Indonesia dan Fiji tertinggal dalam pencapaian pendidikan dibandingkan anak perempuan. Riset ini melibatkan lebih dari 1.400 anak usia 5–15 tahun dari 24 permukiman antara 2018–2021.
Anak laki-laki tercatat menghabiskan rata-rata 3 jam lebih sedikit per minggu untuk aktivitas pendidikan seperti sekolah dan mengerjakan PR dibanding anak perempuan. Padahal, anak perempuan justru lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa upah.
Dr. Michelle Escobar dari Melbourne University menyebutkan, ketimpangan ini bukan karena beban kerja anak laki-laki, melainkan lebih banyaknya waktu yang mereka habiskan untuk bermain di luar rumah—yang juga meningkatkan risiko paparan lingkungan berbahaya.
Associate Professor Nicole Black dari Monash University menambahkan, tren ketertinggalan pendidikan anak laki-laki ini juga mulai tampak di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Akibatnya, mereka rentan mengalami kesulitan akademik, peluang kerja rendah, serta potensi terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan kriminalitas di masa depan.
Peneliti menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran orang tua dan menyediakan kegiatan pendampingan berbasis sekolah atau komunitas untuk memperkecil kesenjangan ini.(dtk/Fj)







