Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Hukum · 7 Agu 2025 14:10 WIB ·

Banyak Beras Oplosan di Ritel, Warga Beralih ke Warung


Banyak Beras Oplosan di Ritel, Warga Beralih ke Warung Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Yessica awalnya percaya. Ia sering membeli beras premium dalam kemasan di supermarket. Ini dilakukan karena dianggap lebih aman, praktis dan hiegines serta terjamin kualitasnya. Namun, itu dulu, sebelum heboh kabar ada beras oplosan.

“Biasanya saya beli Sania yang 5 kiloan, sekalian groceries. Lebih praktis dan memang selama ini percaya aja sih karena kemasannya premium,” ujar Yessica (30), pelaku usaha kuliner rumahan, dikutip cnnindonesia, Rabu (6/8).

Belakangan terakhir ini, kepercayaan Yessica mulai goyah. Sejak ramai pemberitaan soal dugaan beras oplos yang justruk banyak dijual pada rak ritel, Yessica memutuskan beralih.”Per Agustus ini, saya pindah beli ke warung kelontong dekat rumah,” katanya.

Langkah Yessica bukan tanpa alasan. Pasalnya Satgas Pangan Polri telah menetapkan tiga orang dari PT Padi Indonesia Maju (PIM) sebagai tersangka dalam kasus pelanggaran mutu dan label beras.

Merek beras terkenal, seperti Sania, Fortune, Sovia, dan SIIP ditemukan tidak sesuai standar mutu nasional. Mulai dari kadar air terlalu tinggi, bulir patah melebihi batas, hingga diduga mencampur beras kualitas berbeda.

Sejak itu, rak beras di minimarket dan supermarket mulai kosong. Banyak konsumen, termasuk Yessica, jadi berpikir ulang.

Yessica sempat mencoba beras jenis Petruk dari warung dekat rumahnya, dan justru merasa kualitasnya lebih baik.

“Saya pikir rice cooker-nya yang rusak karena berasnya cepat benyek. Ternyata setelah ganti ke beras warung, dimasak di rice cooker yang sama, hasilnya jauh lebih oke,” tuturnya.

Bagaimana dengan harga? Yessica mengaku hampir sama, bahkan cenderung murah. Ia membeli beras premium 5 kg di ritel Rp75 ribu, sedangkan beras di warung Rp70 ribu.

Hal serupa juga dialami Innes (31), pegawai swasta yang juga ibu rumah tangga. Ia mengaku biasa membeli beras di minimarket karena sering ada promo. Tapi dua bulan lalu, beras yang ia beli cepat bau dan lembek, padahal cara memasaknya seperti biasa.

“Setelah muncul isu soal beras oplos, jadi curiga kalau beras yang waktu itu kita makan beras oplosan karena berasnya jadi jelek banget. Akhirnya jajal beli di pasar tradisional,” ucap Innes.

Meski awalnya ragu karena beras curah tidak dikemas rapi seperti di ritel, Innes mengaku terkejut dengan hasilnya. Namun ternyata, beras yang ia beli di pasar justru lebih enak, bersih, dan tidak berbau ataupun lembek.

Ia membeli beras seharga Rp14 ribu per liter, yang menurut hitungannya justru lebih hemat dibanding beras kemasan 5 kg di minimarket yang bisa mencapai Rp74.500.

“Enggak tahu ya lebih percaya mana, so far beras di pasar tradisional pun ada kualitas, ada harga. Selama beli beras yang top 3-nya harga di pasar, kayaknya lebih enak daripada di ritel. Sementara enggak beli beras di minimarket/ritel dulu deh.”

Pedagang pun melihat fenomena beralihnya pembeli beras dari ritel modern ke pasar. Jumlah pembeli beras di pasar bertambah setelah kasus beras oplosan.

Zainul, pedagang beras di Pasar Rumput, Jakarta Selatan mengatakan para pembeli mengeluhkan kualitas beras yang dibeli di ritel. Mereka menyebut beras menguning dan berair.

Para pembeli juga membeli beras di pasar karena stok beras habis di ritel. Beberapa produsen menarik barangnya dari ritel setelah kasus beras oplosan. “Ada beberapa yang jadi datang ke sini karena di ritel kan ditarik-tarik (beras oplosan),” kata Zainul.

Meski begitu, ia tak mendapatkan kenaikan keuntungan secara signifikan. Zainul punya enam toko beras saingan di pasar itu. Para pembeli baru tersebar di tujuh toko itu.

Nurma, pedagang beras di Pasar Santa, Jakarta Selatan juga menuturkan kisah serupa. Ia bercerita ada saja konsumen yang beralih dari ritel modern akhir-akhir ini, tapi mereka belum mampir ke toko berasnya.

“Ada aja mungkin ya yang jadi beli beras di pasar tradisional, tapi kalau saya enggak terlalu ketemu gitu dia sebelumnya beli di ritel terus jadi ke sini,” ujar Nurma. (jr)

Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Anggaran Video KKP Dinilai Janggal, MataHukum Minta KPK Turun Tangan

29 April 2026 - 11:22 WIB

Asosiasi Pengusaha Kota Tangerang Gugat Lelang Proyek Miliaran, Kadispora Terancam Dilaporkan ?

28 April 2026 - 19:50 WIB

MataHukum: Jangan Hanya ZA, KPK Harus Seret Nusron Wahid Di Kasus Kuota Haji

28 April 2026 - 15:00 WIB

Ungkap GS, Sosok Misterius di Balik Dugaan Pengaturan Tender USD 10,9 Juta di PHR

28 April 2026 - 13:50 WIB

Forsiber Ungkap Anak Pejabat Utama BGN Punya Sejumlah Dapur MBG

27 April 2026 - 12:45 WIB

KLH Pusat Tetapkan Eks Kadis LH DKI sebagai Tersangka: Berpotensi Merembet ke Banyak Pihak dan Bisa Membuat Seluruh Kadis LH Daerah Takut

25 April 2026 - 23:46 WIB

Trending di Hukum