JAKARTA | Harian Merdeka
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmennya untuk menindak para oknum yang memasukkan beras ilegal melalui jalur tikus. Ia menilai praktik tersebut merugikan jutaan petani dan berpotensi mengganggu stabilitas sektor pertanian nasional, termasuk upaya pemerintah mencapai swasembada.
Amran mengatakan meski jumlah beras ilegal yang masuk terlihat kecil, dampaknya sangat besar terhadap harga dan penyerapan hasil panen petani lokal.
“Jadi, ini kelihatannya kuantumnya kecil tapi dampaknya besar. Pertama, petani padi kita 115 juta, kemudian petani tebu jutaan. Baru saja harga gula produksi kita tidak bisa keluar karena banjir gula. Nah, ini salah satunya penyebabnya, ada jalur tikus,” ujar Amran dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Selasa (25/11).
Menurutnya, persoalan serupa juga terjadi pada komoditas minyak goreng yang melibatkan lebih dari 10 juta petani dalam rantai produksi. Masuknya barang ilegal, kata Amran, dapat mengikis motivasi petani sekaligus menurunkan kepercayaan mereka terhadap pasar.
Terkait langkah antisipasi, Amran menegaskan pemerintah akan mengutamakan penindakan tegas terhadap berbagai bentuk pelanggaran yang berkaitan dengan masuknya beras ilegal. Ia menyebut untuk wilayah berkategori khusus seperti Sabang dan Batam, pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas daerah agar kebijakan nasional dapat berjalan seragam.
“Kalau jalur tikus, (antisipasinya) penindakan. Jalur tikus, penindakan. Kalau daerah-daerah kawasan seperti Sabang dan Batam, kita komunikasi. Kenapa? Karena ada kebijakan nasional yang harus diikuti seluruh Indonesia,” katanya.
Amran memastikan pemerintah akan terus memperketat pengawasan dan menjaga keberpihakan kepada petani agar sektor pertanian tetap stabil menghadapi berbagai tantangan, termasuk potensi masuknya produk ilegal dari luar negeri.(con/hmi)







