Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Nasional · 12 Jun 2026 14:16 WIB ·

Dasco: Minggu Depan Rupiah Menguat, Sebaiknya Dolar Dilepas


Dasco: Minggu Depan Rupiah Menguat, Sebaiknya Dolar Dilepas Perbesar

Jakarta | Harian Merdeka

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengajak orang-orang kaya yang nyimpen dolar Amerika Serikat (AS) agar segera menjualnya. Sebab, nilai tukar rupiah akan segera menguat.

“Bagi teman-teman yang saat ini menyimpan dolar AS karena berharap ada kelebihan (keuntungan), sebaiknya dilepas. Karena kalau sudah minggu depan, nilai rupiah menguat. Itu imbauan saya sih,” ucap Dasco, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).

Dasco mengaku sudah mendengar sejumlah langkah dan strategi Pemerintah dalam menguatkan rupiah. Ia pun yakin, pekan depan, nilai tukar rupiah akan semakin perkasa.

“Dalam minggu ini dan ke depan ada strategi-strategi khusus Pemerintah. Saya yakini ini akan membuat nilai tukar atau rupiah menguat,” kata Ketua Harian Partai Gerindra ini.

Ia menjelaskan, data perdagangan tiga hari terakhir menunjukkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah dalam tren yang bagus. Kata Dasco, penguatan ini tak lepas dari kepercayaan publik terhadap Pemerintah.

“Saya pikir kepercayaan terhadap Pemerintah semakin kuat sehingga hal itu berpengaruh terhadap pasar dan juga terhadap penguatan nilai tukar rupiah,” ucapnya.

Keyakinan yang sama disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya memprediksi, nilai tukar rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II atau mulai Juli 2026.

“Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II tahun 2026,” kata Purbaya, saat rapat bersama Komisi XI DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Prediksi Purbaya ini memperhitungkan sejumlah faktor ekonomi. Ia memaparkan, hingga awal Juni 2026, rupiah masih menghadapi tekanan dari berbagai faktor, baik dari global maupun domestik. Terutama dipengaruhi oleh sentimen global, kondisi risk off di pasar keuangan, tekanan dari transaksi berjalan dan transaksi finansial domestic.

Purbaya yakin, tekanan tersebut mereda melalui sinergi yang lebih kuat antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Misalnya, perbaikan tata kelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta pendalaman pasar keuangan domestik, diyakini meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri dan memperkuat kepercayaan investor. Selain itu, prospek ekonomi global pada 2027 diperkirakan lebih baik dibanding tahun ini, seiring sejumlah konflik geopolitik yang mereda.

“Di tahun 2027, konflik geopolitik terutama Iran dan AS dan Israel diperkirakan semakin mereda dan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan membaik,” ujar Purbaya.

Atas berbagai faktor tersebut, Pemerintah memperkirakan nilai tukar rupiah pada tahun 2027 akan bergerak di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS. “Pemerintah memperkirakan rupiah di tahun 2027 terjaga stabil pada kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS,” kata Purbaya, yakin.

Serupa, Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2027 akan berada di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS. “Kami memandang 2027 nilai tukar akan menguat. Kisarannya sama dengan Pemerintah Rp 16.800 sampai Rp 17.500,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam rapat yang sama.

Menurut Perry, ada lima faktor yang menyebabkan penguatan mata uang Garuda di 2027. Pertama, kondisi ekonomi global tahun depan diperkirakan tak akan seburuk tahun ini. Kedua, fundamental ekonomi Indonesia dalam keadaan kuat. Ketiga, kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ekspor. Keempat, BI berkomitmen terus menjaga nilai tukar rupiah baik melalui intervensi maupun berbagai kebijakan lain. Kelima, koordinasi erat antara kebijakan moneter BI dengan kebijakan fiskal Pemerintah.

“Jadi, dengan lima faktor itu, rupiah Insya Allah tahun depan akan menguat kisarannya Rp 16.800-Rp 17.500,” yakin Perry. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ekonomi Ambles dan Pejabat Korup, Mahasiswa Kosgoro Ancam Reformasi Jilid Dua

12 Juni 2026 - 10:36 WIB

Zulhas: Jumlah SPPG Membengkak, Pemborosan Rp 1 Triliun per Bulan

12 Juni 2026 - 10:30 WIB

Minyakita Dihapus Saat Harga Melejit, Pengamat: Rakyat Miskin Jadi Korban

11 Juni 2026 - 12:52 WIB

Bukan Atur WFH, Sekjen Matahukum Minta Istana Bongkar Tata Kelola Energi

11 Juni 2026 - 12:45 WIB

Kasus Beras Bangkalan, Legislator Golkar: Bulog Jangan Asal Ganti

8 Juni 2026 - 14:26 WIB

Sebut Proyeksi BI Cuma Pembelaan Diri, CBA Desak Perry Warjiyo Mundur Jika Rupiah Anjlok

5 Juni 2026 - 10:40 WIB

Trending di Nasional