JAKARTA | Harian Merdeka
Kementerian Haji dan Umrah mencatat, sebanyak 33,2 persen petugas haji tahun ini adalah perempuan. Kehadiran mereka diharapkan meningkatkan kenyamanan jamaah, terutama jamaah perempuan.
Wakil Menteri Haji Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan angka ini melampaui target awal kementerian yang mematok kuota 30 persen. “Ini memang kebijakan Pak Menteri, kita ingin afirmasi terhadap perempuan karena jamaah haji kita sebagian besar itu perempuan,” ujar Dahnil saat memimpin apel pagi dan lari bersama peserta diklat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (16/1/2026).
Dahnil menjelaskan, kehadiran petugas perempuan penting karena sebagian besar jamaah haji Indonesia adalah perempuan. Hal ini memungkinkan pelayanan yang lebih humanis, nyaman, dan sesuai syariat, terutama dalam hal privat dan konsultasi ibadah.
Ia menyoroti banyak keluhan dan masukan dari tahun-tahun sebelumnya, di mana jamaah perempuan merasa canggung berkonsultasi soal ibadah atau kesehatan dengan petugas laki-laki. “Mereka akan lebih nyaman ketika berkomunikasi dengan sesama perempuan. Misalnya konsultasi ibadah, idealnya bicara dengan petugas perempuan. Sehingga pendekatannya bisa lebih personal dan emosional,” kata Dahnil.
Selain kenyamanan komunikasi, Dahnil menekankan aspek empati. Para petugas, baik laki-laki maupun perempuan, dididik untuk memperlakukan jamaah, khususnya lansia, layaknya orang tua mereka sendiri. Kehadiran petugas perempuan menambahkan nuansa keibuan dan kepedulian spesifik yang sangat dibutuhkan jamaah wanita jauh dari keluarga.
Dahnil menegaskan, rasio petugas perempuan akan terus dievaluasi agar tetap proporsional dengan jumlah jamaah laki-laki dan perempuan. “Yang jelas proporsionalitasnya akan kita lihat nanti,” ujarnya.
Kebijakan ini juga diharapkan memberikan rasa tenang bagi keluarga jamaah di Tanah Air. Dengan mengetahui ibu atau nenek mereka dilayani oleh petugas perempuan yang empati dan penuh simpati, keluarga dapat merasa aman melepas kerabatnya menunaikan rukun Islam kelima. (hab)







