Tapanuli Utara | Harian Merdeka
Wasekjend 4 PP GEKIRA ( Gerakan Kristiani Indonesia), Bidang sosial Budaya Daniel Sipahutar mengatakan, kegiatan penanaman 1 juta pohon di Tapanuli Utara, Sumatra Utara secara simbolis yang ditanam adalah bibit pohon Aren.Untuk mencegah terjadinya banjir, longsor akibat dari perubahan iklim.
“Penanaman 1 juta pohon dan secara simbolis yang di tanam adalah bibit pohon Aren.Untuk mencegah terjadinya banjir, longsor akibat dari perubahan iklim, untuk mencegah terjadinya bencana longsor dan banjir akibat adanya perubahan iklim,” kata Daniel kepada Harian Merdeka, Minggu (18/1/2026).
Daniel menilai penanaman 1 juta pohon sangat penting untuk menjaga ekosistem dan lingkungan tetap terjaga dan merawat bumi.
- Penanaman pohon sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap terjaga dan merawat bumi,” bebernya.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari aksi kemanusiaan dan upaya pelestarian lingkungan di wilayah terdampak bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
” Hal ini bagian dari aksi kemanusiaan dan upaya pelestarian lingkungan di wilayah terdampak banjir bandang di Sumatra Utara,” bebernya.
Selain itu, kata dia, kegiatan pengamanan 1 juta pohon ini akan berlanjut pada tahun 2026 ini.
,” Kegiatan penanaman 1 juta pohon akan berlanjut tahun ini,” ujarnya.
Seperti diketahui sebelumnya.Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim yang juga Ketua Dewan Pembina Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) Partai Gerindra, Hashim S. Djojohadikusumo yg di dampingi oleh ketua umum PP GEKIRA Nikson Silalahi dan wakil ketua dewan pembina Nurdin Tampubolon Hadir pula Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, Wakil Menteri Kehutanan Rokhmat Marzuki, Wakil Menteri Pertanian, serta Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution.
Hashim S. Djojohadikusumo secara simbolis menyerahkan bibit pohon aren kepada perwakilan lima kepala desa yang terdampak bencana alam di Kabupaten Tapanuli Utara. Penyerahan ini diharapkan dapat mendukung pemulihan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Pada sesi utama Dialog Kebangsaan yang berlangsung di Gedung Raja Pontas Lumban Tobing, Pearaja, Tarutung, Hashim menegaskan bahwa bencana alam merupakan keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapan dan perencanaan yang matang.
“Bencana alam pasti akan terus terjadi di masa depan akibat perubahan iklim. Yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar dampaknya bisa diminimalkan. Apa yang dialami Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat menjadi pembelajaran bagi seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, khususnya antara lingkungan hidup, kehutanan, dan pertanian, serta kesiapan logistik pangan dalam menghadapi situasi darurat.
“Kita harus mengantisipasi bencana berikutnya, termasuk menyiapkan stok pangan nasional dan memperkuat sistem penanggulangan bencana.
Ini adalah bagian dari menjaga ketahanan bangsa,” tambahnya.







