Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 13 Apr 2026 13:40 WIB ·

Kenaikan Harga Plastik Bikin Pedagang Kecil Menjerit


Kenaikan Harga Plastik Bikin Pedagang Kecil Menjerit Perbesar

JAKARTA I Harian Merdeka

Kenaikan harga plastik kemasan hingga 50 persen akibat dampak perang di Timur Tengah membuat sejumlah para pedagang kecil menjerit.Pasalnya kenaikan harga plastik membuat beban para pedagang kecil.

Salah seorang pedagang es Teh, Sohib saat ditemui di Tangerang Selatan, mengatakan bahwa naiknya harga plastik membuat beban pedagang karena mempengaruhi penjualan.

” Kalau harga plastik naik, kita juga kena dampaknya apalagi harga gelas plastik naiknya cukup tinggi, kalau kita naikan harga pelanggan akan pergi,” kata Sohib kepada Harian Merdeka, Senin (13/4/2026).

Sohib mengaku sejak naiknya harga plastik dampaknya sangat besar bagi penghasilan. Yang harusnya ada keuntungan yang lebih dengan naiknya harga plastik tentunya berdampak pada pengeluaran yang rugikan pedagang.

” Kalau pendapatan saja tidak tentu, kalau naiknya harga plastik pasti akan berdampak pada penghasilan, karena harus menambah lagi modal,” ujarnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, menyoroti dampak perang di Timur Tengah yang mulai menekan industri elektronik nasional, terutama akibat lonjakan harga plastik kemasan hingga 50% dalam beberapa minggu terakhir.
Menurut Gobel, kenaikan harga bahan baku tersebut merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan dari gejolak global. Oleh karena itu, pelaku industri dituntut segera menyesuaikan strategi produksi agar tetap bertahan.

“Kalau soal kenaikan harga dan dampak daripada perang ini nggak bisa terhindari. Tentu sebagai pengusaha kita semua harus bisa melakukan engineering desain yang lebih lagi bagaimana mengatasi kenaikan bahan baku ini sendiri,” ujar Gobel, di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Ia menjelaskan, industri elektronik sangat terdampak karena komponen plastik dapat mencapai 30–40 persen dari total material produk. Kondisi ini membuat struktur biaya produksi meningkat signifikan, sehingga redesign atau penyesuaian desain produk menjadi langkah penting untuk menjaga efisiensi.

Namun demikian, Gobel menilai tekanan paling berat justru dirasakan oleh pelaku usaha menengah dan kecil yang memiliki keterbatasan dalam melakukan inovasi desain maupun efisiensi produksi.

Di tengah kondisi tersebut, ia meminta pemerintah memberikan dukungan konkret, seperti kemudahan impor bahan baku plastik dan insentif bagi sektor manufaktur.

“Diharapkan pemerintah juga bisa memberikan kemudahan dan kelancaran impor bahan baku plastik serta dukungan insentif dalam rangka mengatasi masalah ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, legislator Partai NasDem itu menegaskan pentingnya pengendalian impor barang jadi agar tidak semakin menekan industri dalam negeri.

Ia menilai maraknya produk impor, termasuk yang ilegal, justru menjadi ancaman lebih besar dibanding kenaikan harga bahan baku.

“Yang paling penting kontrol produk impor. Jangan impor dibuka hanya untuk kepentingan itu, akhirnya industri kita lama-lama mati semua,” tegasnya.

Ia juga menyoroti masih adanya kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada industri nasional, termasuk penggunaan produk impor dalam program pemerintah. Hal tersebut bertentangan dengan upaya memperkuat industri dalam negeri.

“Dampak kita bukan karena bahan baku, tapi impor selundupannya naik. DPR sudah menyuarakan bahwa itu tidak pro kepada industri dalam negeri,” ujarnya.

Gobel mengingatkan, tanpa perlindungan yang memadai dari pemerintah, industri berpotensi menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Pemerintah harus berikan kemudahan supaya produksi tetap jalan. Karena kalau tidak, lama-lama PHK akan terjadi,” katanya.

Terkait harga jual, ia mengakui pelaku industri kini tengah menghitung ulang strategi. Sebagian produsen mempertimbangkan kenaikan harga, sementara lainnya memilih bertahan meski margin keuntungan tergerus.

“Pasti ada yang naikkan harga, tapi ada juga yang mencoba bertahan dengan konsekuensi tidak ada profit,” pungkasnya.(Agus).

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Prestasi Gemilang, PERUMDAM TKR Raih TOP BUMD Awards.

16 April 2026 - 12:01 WIB

Cara Negara Memperkaya Oligarki Sawit Lewat Alokasi Volume Biodiesel B50

15 April 2026 - 13:02 WIB

Sertijab Pejabat Polres Nias, Kabag SDM Kini Dijabat AKP Sonahami Lase

15 April 2026 - 12:59 WIB

Pupuk Kaltim Sahkan PKB 2026–2028, Menaker Beri Apresiasi

15 April 2026 - 12:56 WIB

Kementerian ESDM : Pengembangan Blok Masela untuk Melindungi Kedaulatan Ekonomi Indonesia

13 April 2026 - 13:10 WIB

Dampak PIK 2: Ratusan Hektar Sawah Rusak, Pekerja Pakuhaji Ngadu ke DPR

10 April 2026 - 11:36 WIB

Trending di Ekbis