Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Nasional · 29 Apr 2026 13:27 WIB ·

Transisi Energi Hijau melalui Ekonomi Karbon


Transisi Energi Hijau melalui Ekonomi Karbon Perbesar

JAKARTA I Harian Merdeka

Asosiasi Daerah Penghasil Panasbumi Indonesia (ADPPI) memandang penunjukan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dalam pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai momentum strategis untuk memperkuat fondasi transisi energi hijau nasional.

Hasanuddin, Ketua Umum ADPPI, mengatakan, ADPPI menilai bahwa tantangan utama pengembangan energi bersih di Indonesia, khususnya panas bumi, bukan semata pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada struktur kebijakan dan insentif ekonomi yang belum sepenuhnya berpihak.

Padahal, Indonesia memiliki salah satu potensi panas bumi terbesar di dunia yang seharusnya dapat menjadi tulang punggung kemandirian energi nasional.

Dalam konteks ini, peran Kementerian Lingkungan Hidup menjadi sangat krusial sebagai pengarah kebijakan lingkungan dan pengendalian emisi.

Meskipun pengembangan panas bumi berada dalam kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), keberhasilan akselerasinya sangat ditentukan oleh kebijakan lintas sektor—terutama melalui instrumen ekonomi karbon yang berada dalam domain kebijakan lingkungan.

ADPPI menegaskan bahwa pembangunan sistem ekonomi karbon—melalui mekanisme seperti perdagangan karbon dan insentif berbasis emisi—harus segera dipercepat dan diperkuat. Tanpa intervensi tersebut, energi bersih seperti panas bumi akan terus menghadapi ketimpangan daya saing dibandingkan energi fosil yang secara historis menikmati berbagai bentuk subsidi dan kemudahan.

Ekonomi karbon bukan hanya instrumen pengendalian emisi, melainkan mekanisme koreksi pasar yang strategis. Dengan memberikan harga pada karbon, pemerintah secara langsung menciptakan insentif bagi investasi energi rendah emisi dan sekaligus mendorong transformasi struktur ekonomi menuju model pembangunan berkelanjutan.

ADPPI juga menekankan bahwa kunci keberhasilan transisi energi terletak pada konsistensi kebijakan dan keberanian politik dalam menyelaraskan prioritas pembangunan nasional. Diperlukan integrasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam satu kerangka kebijakan yang koheren dan berjangka panjang.

Dengan kepemimpinan yang visioner dan koordinasi lintas sektor yang efektif, ADPPI optimistis bahwa transisi energi hijau dapat dipercepat—bukan hanya sebagai respons terhadap tuntutan global, tetapi sebagai strategi nasional untuk mewujudkan kemandirian energi, pertumbuhan ekonomi baru, dan keberlanjutan lingkungan Indonesia.(Agus).

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sentimen Positif Rupiah Menguat, Pengamat Apresiasi Langkah Taktis Sufmi Dasco

12 Juni 2026 - 16:17 WIB

Dasco: Minggu Depan Rupiah Menguat, Sebaiknya Dolar Dilepas

12 Juni 2026 - 14:16 WIB

Ekonomi Ambles dan Pejabat Korup, Mahasiswa Kosgoro Ancam Reformasi Jilid Dua

12 Juni 2026 - 10:36 WIB

Zulhas: Jumlah SPPG Membengkak, Pemborosan Rp 1 Triliun per Bulan

12 Juni 2026 - 10:30 WIB

Minyakita Dihapus Saat Harga Melejit, Pengamat: Rakyat Miskin Jadi Korban

11 Juni 2026 - 12:52 WIB

Bukan Atur WFH, Sekjen Matahukum Minta Istana Bongkar Tata Kelola Energi

11 Juni 2026 - 12:45 WIB

Trending di Nasional