Jakarta | Harian Merdeka
Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri meminta seluruh personel gabungan tidak berinisiatif menembakkan gas air mata ke massa demo BEM UI di Bundaran HI dan Gedung DPR, Jumat (12/6/2026). “Penggunaan gas air mata hanya boleh atas perintah saya. kalian tidak bisa menembak sndiri harus perintah saya,” kata Asep Edi Suheri saat memimpin apel pasukan di kawasan DPR/MPR RI, Jumat.
Menurut Asep, mahasiswa sebagai massa aksi adalah masyarakat yang harus dilayani oleh kepolisian sebagai aparat penegak hukum. “Saya titip kepada seluruh personel, adik-adik mahasiswa adalah keluarga kita. Mereka bukan lawan, melainkan warga masyarakat yang harus kita layani, kita jaga, dan kita amankan dengan sebaik-baiknya,” ujar Kapolda
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi merinci, pengamanan akan dilakukan oleh 3.802 personel dari Polda Metro Jaya, 582 personel Polres Metro Jakarta Pusat, 1.000 personel Korbrimob, dan 500 personel TNI. Budi mengingatkan agar massa menjalankan aksinya dengan tertib dan tidak membawa senjata berbahaya. Massa aksi juga diimbau agar tidak mudah terprovokasi.
“Jangan sampai ada kelompok-kelompok lain yang mencoba masuk, memprovokasi, atau menunggangi aksi penyampaian pendapat yang dilindungi undang-undang ini,” ujar Budi.
Budi menegaskan bahwa Bundaran HI sebagai titik aksi hari ini bukan tempat untuk penyampaian aspirasi. Maka dari itu, nantinya mass aksi akan diarahkan untuk ke Gedung DPR/MPR RI.
“Direktorat Intelkam Polda Metro Jaya juga telah berkomunikasi dengan pihak terkait agar titik penyampaian aspirasi dapat diarahkan ke kawasan Patung Kuda atau depan Gedung DPR/MPR RI, sehingga aspirasi tetap dapat tersampaikan dengan baik,” kata dia. Sebelumnya, Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan meminta maaf atas kemacetan lalu lintas yang berpotensi terjadi di Bundaran HI hari ini. “Teruntuk warga di Jakarta utamanya di sekitaran Bundaran HI, kami ingin memohon maaf atas kemacetan dan ketidaknyamanan yang akan terjadi,” ujar Athof saat dikonfirmasi Kompas.com lewat pesan singkat, Kamis (11/6/2026). “Namun, kami ingin memberi pesan bahwa kemacetan lalu lintas esok hanya berlangsung beberapa jam,” tuturnya.
Adapun lima poin tuntunan demo yakni: Pertama, setop pemborosan APBN. Kedua, turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM
Ketiga, hentikan program MBG dan Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Keempat, hentikan militerisme di ranah sipil.
Kelima, meminta Presiden Prabowo berhenti mengelak dan akui kesalahan pemerintah
Athof pun mengajak berbagai elemen masyarakat seperti buruh, guru, pedagang, ibu rumah tangga, serta komunitas/pecinta pelari serta siapapun untuk mengikuti demonstrasi di Bundaran HI.
“Kita rebut keadilan! Karena keadilan tidak datang sendiri. Ia harus dijemput oleh rakyat Indonesia yang besar, bukan pemerintah yang berlagak besar,” ujar Athof. (Egi)







