Menu

Mode Gelap
Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi Isra Miraj Jadi Momentum Pertobatan Ekoteologis, Menag Ajak Umat Berhenti Merusak Alam

Nasional · 22 Jan 2026 17:35 WIB ·

Greenpeace: Jika Deforestasi Dibiarkan, Bencana Ekologis Sumatra Akan Terulang di Papua


Greenpeace: Jika Deforestasi Dibiarkan, Bencana Ekologis Sumatra Akan Terulang di Papua Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Bencana ekologis akibat deforestasi menjadi ancaman serius bagi Indonesia seiring masifnya alih fungsi hutan dan eksploitasi sumber daya alam. Greenpeace menilai banjir dan longsor di Sumatra merupakan dampak langsung dari kerusakan hutan yang berlangsung puluhan tahun.

Aktivitas deforestasi masif selama puluhan tahun menghancurkan daya dukung lingkungan dan memperparah risiko bencana.

Dampak Deforestasi terhadap Bencana Lingkungan

Direktur Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menyebut banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sebagai peringatan keras krisis ekologis nasional. Menurutnya, Indonesia selama ini mengabaikan kerusakan lingkungan yang terus meluas. Greenpeace menilai bencana ekologis akibat deforestasi tidak hanya terjadi di Sumatra, tetapi juga mengancam Papua jika pola eksploitasi terus berlanjut

“Hampir dua bulan terakhir, bencana hidrometeorologis menyadarkan kita. Banjir dan longsor masif terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” kata Leo dalam konferensi pers RUU Masyarakat Adat, Rabu (21/1/2026).

Greenpeace Ingatkan Ancaman Bencana di Papua

Leo menjelaskan bahwa masyarakat adat selama ratusan tahun mengelola hutan secara berkelanjutan. Namun, dalam empat dekade terakhir, negara justru mengalihkan kawasan hutan adat kepada industri ekstraktif.

Pemerintah memberikan izin kepada perusahaan pembalakan, industri bubur kertas, pertambangan, dan perkebunan kelapa sawit untuk menguasai wilayah tersebut.

“Selama 40 tahun terakhir, negara merestui perusakan hutan adat oleh industri ekstraktif,” tegasnya.

Peran Masyarakat Adat Menjaga Hutan Berkelanjutan

Deforestasi masif menghilangkan fungsi hutan sebagai penyangga ekosistem. Akibatnya, air hujan tidak lagi terserap secara alami dan memicu banjir serta longsor.

Leo menilai, jika masyarakat adat tetap mengelola hutan dengan praktik berkelanjutan, dampak bencana tidak akan sebesar sekarang. Oleh sebab itu, ia mendesak pemerintah untuk mengembalikan kewenangan pengelolaan hutan kepada masyarakat adat.

“Hutan adat dan penjaganya harus memperoleh ruang untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Papua Menghadapi Ancaman Serupa

Greenpeace juga memperingatkan potensi tragedi ekologis serupa di wilayah lain. Papua dan kawasan adat lain kini menghadapi ancaman yang sama jika negara mempertahankan pola eksploitasi sumber daya alam.

Industri ekstraktif yang terus masuk ke wilayah adat menyingkirkan masyarakat setempat dan meningkatkan risiko bencana.

“Jika pola ini terus berjalan, bencana hanya tinggal menunggu waktu,” tutup Leo. Tanpa perubahan kebijakan, bencana ekologis akibat deforestasi berpotensi menjadi krisis nasional yang berulang. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

​Masyarakat Tak Perlu Khawatir, BPOM Pastikan Kualitas Pangan MBG Teruji Klinis

14 Februari 2026 - 20:45 WIB

Kinerja Kapolri Tuai Apresiasi dari Presiden Prabowo

13 Februari 2026 - 16:44 WIB

Presiden Prabowo Anugerahkan Satyalencana Wira Karya kepada Kapolda Metro Jaya

13 Februari 2026 - 16:09 WIB

“Polisi Rakyat” Bukan Sekadar Kata, Ini Arahan Tegas Kapolri Pedomani Prabowo

13 Februari 2026 - 15:14 WIB

Prabowo Resmikan SPPG Polri di Palmerah: Negara Dekat dengan Warga

13 Februari 2026 - 15:03 WIB

1.500 SPPG Siap Berdiri di Seluruh Indonesia, Polri Fokus Layanan Masyarakat

13 Februari 2026 - 14:40 WIB

Trending di Nasional