JAKARTA | Harian Merdeka
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengantisipasi La Nina yang berdasarkan informasi dari BMKG, terjadi pada akhir tahun 2025.
Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan menyebut, pihaknya telah melakukan koordinasi lintas sektor dengan instansi terkait.
“BPBD DKI Jakarta telah melakukan koordinasi lintas sektor bersama instansi terkait seperti Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perhubungan (Dishub), serta TNI–Polri untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi peningkatan curah hujan akibat fenomena La Nina,” ujarnya, dikutip liputan6 com(8/10).
BPBD DKI Jakarta bersama dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) juga memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) dan memastikan posko siaga bencana di setiap wilayah administrasi kota berfungsi secara optimal.
“Pengecekan rutin terhadap pompa air, waduk, dan pintu air terus dilakukan untuk memastikan semua infrastruktur dalam kondisi siap pakai,” katanya.
Yohan menyebut, mitigasi dini sebagai langkah kunci dalam menghadapi potensi La Nina juga bakal dilangsungkan. Sebab, kata dia, dengan kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini yang optimal, risiko genangan imbas La Nina diharapkan dapat ditekan.
“BPBD DKI menegaskan bahwa mitigasi dini merupakan kunci dalam menghadapi potensi La Niña, mengingat dampaknya bisa meluas terhadap aktivitas masyarakat, infrastruktur, dan sektor ekonomi di Jakarta,” ujarnya.
Sebagai bentuk partisipasi publik, masyarakat juga diminta tetap waspada dan memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD DKI.
“Diimbau kepada masyarakat apabila menemukan atau mengalami keadaan darurat dapat menghubungi Call Center Jakarta Siaga 112,” kata Yohan.
Sebelumnya, BMKG memprediksi Indonesia dilanda La Nina akhir Tahun 2025. La Nina merupakan fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.
“Terdapat sebagian kecil model iklim global yang memprediksi akan datangnya La Nina lemah di akhir tahun 2025,” tulis BMKG dalam laporan ‘Prediksi Musim Hujan 2025/2026 di Indonesia’, dikutip liputan 6, Rabu (8/10).
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, La Nina dapat meningkatkan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia. Fenomena ini biasanya mengakibatkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung.
Meski berpotensi menimbulkan bencana, Dwikorita menyebut La Nina lemah bisa membawa dampak positif jika dimitigasi dengan tepat. Hujan yang melimpah dapat dimanfaatkan untuk ketahanan pangan, air, dan energi.
Dwikorita menjelaskan, La Nina membuka peluang percepatan tanam dan perluasan area tanam padi di lahan sawah irigasi, tadah hujan, maupun ladang.
Selain itu, curah hujan tinggi juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas tampungan air di bendungan dan waduk guna mendukung operasional PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) secara maksimal. Masyarakat juga dapat memanen air hujan (rainwater harvesting) untuk menghadapi musim kemarau dan mencegah kekeringan. (jr)







