Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Daerah · 22 Sep 2025 15:21 WIB ·

BRIN: 29 Pulau di Kep.Seribu Terancam Tenggelam


BRIN: 29 Pulau di Kep.Seribu Terancam Tenggelam Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan warning keras bahwa sebanyak 29 pulau di Kepulauan Seribu terancam tenggelam. Kenaikan permukaan air laut, imbas dari perubahan iiklim, menjadi momok menakutkan bagi ribuan warga yang tinggal di sana.

Menurut periset Pusat Riset Oseanografi BRIN, Martiwi Diah Setiawati, skenario terburuk bisa jadi kenyataan. “Dalam skenario terburuk, 29 pulau bisa hilang,” ujarnya, seperti dikutip dari akun Instagram @brin_indonesia.

Kenaikan air laut yang mencapai 3-5 meter menjadi ancaman serius bagi pulau-pulau yang ketinggiannya hanya 2,4 meter dari permukaan laut. Jika 29 pulau ini lenyap, nasib 16.500 penduduk akan terkatung-katung.

Tak hanya ancaman tenggelam, pulau-pulau yang tersisa juga akan semakin sempit. Masalahnya, jumlah penduduk terus bertambah. Warga setempat pun melakukan reklamasi secara mandiri untuk menambah luas daratan. Sayangnya, langkah ini justru memperburuk keadaan.

“Dampaknya, polusi air meningkat, ekosistem pesisir rusak, dan alih fungsi dari laut dangkal ke daratan,” imbuh Martiwi.

Ancaman ini diperkuat oleh data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Plt. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa perubahan iklim adalah kenyataan ilmiah. Menurutnya, perubahan yang dulunya memakan waktu jutaan tahun, kini terjadi hanya dalam hitungan dekade akibat aktivitas manusia.

“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan telah terjadi saat ini,” tegas Dwikorita.

Faktanya, tahun 2024 menjadi tahun terpanas dalam sejarah pencatatan suhu global. Suhu rata-rata global telah melampaui ambang batas 1,5°C di atas masa pra-industri. Angka ini merupakan ambang batas krusial yang ditetapkan dalam Kesepakatan Paris untuk mencegah dampak terburuk perubahan iklim.

“Target pembatasan suhu global semestinya baru tercapai pada tahun 2100, namun kini sudah dilampaui jauh lebih awal. Ini menjadi alarm keras bagi seluruh dunia,” kata Dwikorita.

Di Indonesia, anomali suhu rata-rata nasional mencapai +0,8°C. Dampaknya tak hanya cuaca panas, tapi juga meningkatnya bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan.

Untuk menghadapi ancaman ini, Martiwi menekankan pentingnya aksi nyata, mulai dari sistem peringatan dini hingga penanaman mangrove sebagai benteng alami. Tanpa tindakan serius, Kepulauan Seribu dan mungkin banyak wilayah pesisir lainnya di Indonesia, tinggal menunggu waktu untuk ditelan lautan. (jr)

Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bupati Rudy Susmanto Pastikan Proyek Jalan Tambang Bogor Barat Tetap Berjalan

2 Juni 2026 - 15:08 WIB

Sekwan Blokir WhatsApp Wartawan, Gema Kosgoro Desak KPK Sisir DPRD Kab. Tangerang

2 Juni 2026 - 14:33 WIB

Wakil Ketua DPRD Tangerang Kholid Ismail Kurban 15 Sapi dan 10 Kambing

28 Mei 2026 - 09:36 WIB

Banten Raih WTP Sepuluh Tahun Beruntun, Penerus Banten Puji Andra Soni

25 Mei 2026 - 15:28 WIB

70 Sapi dan 5 Domba Qurban Polda Banten Disalurkan kepada Masyarakat

25 Mei 2026 - 14:51 WIB

Perumdam TKR Perluas Jaringan Hingga Wilayah Rajeg Kabupaten Tangerang.

25 Mei 2026 - 12:06 WIB

Trending di Daerah