Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 14 Okt 2025 11:28 WIB ·

Cengkeh Ekspor Tercemar Radioaktif Cesium 137


Cengkeh Ekspor Tercemar Radioaktif Cesium 137 Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Kasus cemaran radioaktif Cesium-137 (Cs-137) kembali menimpa produk ekspor Indonesia. Usai produk udang beku, kini produk cengkeh Indonesia terpapar radioaktif Cesium-137 (Cs 137), terdeteksi di Amerika Serikat.

Pemerintah memastikan produk cengkeh yang terpapar cemaran itu berasal dari wilayah Lampung, bukan dari pengolahan di Surabaya.

Demikian disampaikan Ketua Divisi Bidang Diplomasi dan Komunikasi Publik Satgas Penanganan Cs-137 Bara Hasibuan setelah tim gabungan melakukan pemeriksaan di sejumlah lokasi terkait.

“Begitu mendapatkan laporan resmi dari US FDA mengenai produk cengkeh Indonesia yang terkontaminasi Cs-137 yang ditemukan di AS, Satgas Penanganan Cs-137 melalui BAPETEN langsung mengirim tim untuk meninjau tiga lokasi, yaitu Surabaya sebagai lokasi pengolahan cengkeh, serta dua sumber pasokan dari perkebunan di Pati, Jawa Tengah, dan Lampung,” ujar Bara dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, dikutip cnnindonesia. Senin (13/10).

Berdasarkan penelusuran, ditemukan adanya kontaminasi di salah satu perkebunan di Lampung. Paparan itu bersifat terbatas dan tidak menyebar ke wilayah atau komoditas lain.

“Kami bisa memberikan konfirmasi bahwa ditemukan kontaminasi di perkebunan di Lampung. Kontaminasi tersebut ditemukan dalam jumlah terbatas dan tidak meluas ke wilayah atau komoditas lainnya,” jelasnya.

Sebagai langkah kehati-hatian, Satgas bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) merekomendasikan agar produk cengkeh yang terindikasi terkontaminasi tidak diperjualbelikan sementara waktu hingga hasil uji laboratorium lanjutan selesai dilakukan.

Tim juga menelusuri sumber paparan Cs-137 yang ditemukan di Lampung untuk memastikan tidak terjadi perluasan dampak.

“Pemerintah sedang bergerak cepat melokalisir kontaminasi ini agar tidak meluas ke wilayah lain. Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk tetap tenang dan menunggu hasil uji laboratorium resmi. Pemerintah akan terus memberikan informasi terkini secara terbuka kepada publik secara terus menerus,” ujar Bara.

Ia menambahkan saat ini tim dari BAPETEN masih melakukan investigasi untuk mengidentifikasi sumber pasti kontaminasi tersebut. Hasil sementara menunjukkan belum ada indikasi keterkaitan dengan aktivitas industri logam seperti kasus sebelumnya di Banten.

Kasus dugaan paparan radioaktif Cs-137 di Indonesia pertama kali mencuat setelah otoritas Amerika Serikat menolak masuknya produk udang beku asal Indonesia pada Agustus 2025 karena terdeteksi mengandung unsur radioaktif.

Investigasi lanjutan di dalam negeri menemukan material logam bekas yang mengandung Cs-137 di Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang, Banten.

Paparan di kawasan tersebut telah dinyatakan sebagai kejadian khusus cemaran radiasi, dengan pemerintah menutup akses ke lokasi dan melakukan proses dekontaminasi.

Sementara di Surabaya, pemeriksaan terhadap pabrik pengolahan cengkeh menunjukkan tingkat radiasi dalam batas normal dan tidak ditemukan adanya paparan aktif. (jr)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Forum Pemred Multimedia dan MitMe.id Jalin Kerjasama Strategis Monetisasi dan Penguatan Brand Media Nasional dan Daerah

28 April 2026 - 13:22 WIB

Pemerintah Genjot Digitalisasi Koperasi Desa

27 April 2026 - 13:33 WIB

Lurah Dedi : Koperasi Merah Putih Jurangmangun Barat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

24 April 2026 - 13:42 WIB

DJP Gencar Kejar Pajak di Sektor Digital, Jam Tangan hingga Rumah Mewah

21 April 2026 - 17:11 WIB

Bahlil Tegaskan Harga LPG 3 Kg Tetap Stabil

21 April 2026 - 16:39 WIB

Kenaikan BBM dan Elpiji Nonsubsidi: Raport Merah Bahlil Lahadalia

21 April 2026 - 12:10 WIB

Trending di Ekbis