Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Kesehatan · 28 Jan 2026 14:57 WIB ·

DBD Mengintai Remaja dan Dewasa Muda di Jaksel, Laki-laki Dominasi Kasus


DBD Mengintai Remaja dan Dewasa Muda di Jaksel, Laki-laki Dominasi Kasus Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan menegaskan bahwa remaja dan dewasa muda menjadi kelompok usia paling rentan terpapar demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Jakarta Selatan.

“Remaja dan dewasa muda menjadi kelompok usia paling rentan terpapar demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta Selatan,” kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Debi Intan Suri saat dihubungi di Jakarta, Rabu.(28/1/2026)

Berdasarkan data Sudinkes Jakarta Selatan, jumlah kasus DBD tertinggi tercatat pada kelompok usia 12 hingga 25 tahun. Posisi berikutnya ditempati kelompok anak usia 5–11 tahun, disusul kelompok usia produktif 26–45 tahun. Sementara itu, kelompok lanjut usia di atas 59 tahun mencatat jumlah kasus yang relatif lebih rendah.

“Meski demikian, kelompok lansia tetap perlu diwaspadai karena memiliki potensi komplikasi yang lebih tinggi apabila terinfeksi DBD,” ujar Debi.

Distribusi kasus DBD pada Januari 2026 juga menunjukkan perbedaan mencolok berdasarkan jenis kelamin. Kasus DBD lebih banyak dialami oleh laki-laki dengan persentase mencapai 68 persen, sedangkan perempuan tercatat sebesar 32 persen.

Pada Januari 2026, Sudinkes Jakarta Selatan mencatat dan menangani sebanyak 38 kasus DBD. Untuk menekan penyebaran penyakit tersebut, berbagai langkah pencegahan terus digencarkan.

Upaya yang dilakukan antara lain memaksimalkan peran kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan dua kali dalam sepekan. Selain itu, pengasapan atau fogging dilakukan di lingkungan sekolah dan permukiman warga.

Sudinkes Jakarta Selatan juga intensif melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pencegahan DBD, termasuk praktik pembuatan perangkap nyamuk atau flytrap di sejumlah sekolah. Warga diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam tinggi, nyeri otot, atau tanda-tanda yang mengarah pada DBD.

Meski ancaman DBD masih ada, Sudinkes Jakarta Selatan mencatat tren penurunan kasus dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, tercatat sebanyak 2.513 kasus DBD. Jumlah tersebut turun signifikan pada 2025 menjadi 1.528 kasus.(tfk/con)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Curhat Keluarga Pasien soal RSUD Thomsen Nias Ramai di Medsos, Ini Klarifikasi Rumah Sakit

25 Mei 2026 - 12:11 WIB

Dinkes Tangsel Ingatkan Warga Bahaya Penyakit Virus Hantavirus, Perhatikan Lingkungan

18 Mei 2026 - 10:48 WIB

Mengenal Hantavirus: Ancaman Kesehatan dari Paparan Tikus yang Perlu Diwaspadai

12 Mei 2026 - 17:08 WIB

Benyamin Targetkan Penurunan Stunting Hingga 2027 Harus Tercapai

5 Mei 2026 - 14:56 WIB

PJR Polda Banten Gerak Cepat Evakuasi Balita Kritis ke RS

12 April 2026 - 21:32 WIB

Sinergi Medis: Residen Senior PPDS FK USU Resmi Bertugas di RSUD dr. M. Thomsen Nias

4 Maret 2026 - 14:35 WIB

Trending di Daerah