Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Nasional · 9 Apr 2026 11:39 WIB ·

Denny Charter : Transformasi PNM jadi Bank tidak Efektif dan Efisien


Denny Charter : Transformasi PNM jadi Bank tidak Efektif dan Efisien Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Rencana pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengubah PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi entitas perbankan khusus UMKM memicu polemik. Kebijakan ini dianggap bukan sekadar perubahan status hukum, melainkan sebuah langkah “politis” yang berisiko mencerabut akar PNM sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat miskin. Jika dipaksakan, PNM yang semula menjadi penolong warga unbankable (warga yang tak terjangkau bank) dikhawatirkan justru akan berubah menjadi institusi kaku yang hanya mengejar profit.

Wakil Ketua Umum Pimnas Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter, menyoroti empat poin krusial mengapa transformasi PNM menjadi “Bank UMKM” adalah langkah yang tidak efisien dan berbahaya bagi stabilitas ekonomi kerakyatan.

  1. Ancaman terhadap Nasabah Ultra-Mikro Menurut Denny, DNA asli PNM terletak pada aspek pendanaan sosial, khususnya melalui program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera). Program ini mengandalkan sistem tanggung renteng tanpa agunan yang didesain khusus untuk masyarakat prasejahtera.

“Begitu berubah menjadi bank, PNM wajib tunduk pada prinsip Prudential Banking dari OJK yang sangat ketat. Mereka harus menjaga rasio kredit macet (NPL) dan profitabilitas tinggi. Secara alamiah, ‘Bank PNM’ nantinya akan meninggalkan nasabah ultra-mikro karena profil risikonya dianggap terlalu tinggi,” ujar Denny.

  1. Duplikasi Peran dan Risiko Kanibalisasi Denny menilai menciptakan bank UMKM baru dari rahim PNM adalah kebijakan yang redundan atau mubazir. Faktanya, Indonesia sudah memiliki PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI yang memiliki infrastruktur dan jangkauan micro-finance terbesar.

Langkah ini dianggap tidak menciptakan pangsa pasar baru, melainkan memicu persaingan tidak sehat sesama perusahaan pelat merah. “Pemerintah seharusnya cukup mengoptimalkan instrumen yang sudah dimiliki oleh BRI, bukan malah memicu kanibalisasi portofolio kredit di internal BUMN,” tambahnya.

  1. Risiko Eksklusi Keuangan Segmen Bawah Salah satu dampak paling nyata yang dikhawatirkan adalah terlemparnya nasabah akar rumput kembali ke pelukan rentenir atau pinjaman online (pinjol) ilegal. Mayoritas nasabah PNM saat ini tidak memiliki riwayat kredit formal atau laporan keuangan terstruktur.

Jika PNM menjadi bank, nasabah ini akan dihadapkan pada proses credit scoring dan pengecekan BI Checking/SLIK OJK yang kaku. “Nasabah yang gagal memenuhi standar perbankan justru berisiko kehilangan akses bantuan, yang pada akhirnya menggagalkan mandat negara dalam memberantas kemiskinan ekstrem,” tegas Denny.

  1. Inefisiensi Anggaran di Tengah Kondisi Fiskal Secara teknis, mengonversi lembaga pembiayaan non-bank menjadi bank membutuhkan biaya yang sangat masif. Dibutuhkan suntikan modal inti (Tier 1 Capital), perombakan total sistem operasional menjadi Core Banking System, hingga adaptasi SDM yang memakan energi besar.

Apalagi, saat ini PNM telah menjadi bagian integral dari Holding Ultra Mikro bersama BRI dan Pegadaian. Denny mengkritik rencana untuk menarik PNM dari struktur holding atau di bawah BPI Danantara sebagai cerminan kebijakan yang fluktuatif dan serampangan.

“Ini menunjukkan ketiadaan peta jalan jangka panjang yang solid dari pemerintah. Membongkar pasang kebijakan yang sudah berjalan baik hanya akan menyedot anggaran di tengah kondisi fiskal yang sedang menantang,” pungkasnya. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sentimen Positif Rupiah Menguat, Pengamat Apresiasi Langkah Taktis Sufmi Dasco

12 Juni 2026 - 16:17 WIB

Dasco: Minggu Depan Rupiah Menguat, Sebaiknya Dolar Dilepas

12 Juni 2026 - 14:16 WIB

Ekonomi Ambles dan Pejabat Korup, Mahasiswa Kosgoro Ancam Reformasi Jilid Dua

12 Juni 2026 - 10:36 WIB

Zulhas: Jumlah SPPG Membengkak, Pemborosan Rp 1 Triliun per Bulan

12 Juni 2026 - 10:30 WIB

Minyakita Dihapus Saat Harga Melejit, Pengamat: Rakyat Miskin Jadi Korban

11 Juni 2026 - 12:52 WIB

Bukan Atur WFH, Sekjen Matahukum Minta Istana Bongkar Tata Kelola Energi

11 Juni 2026 - 12:45 WIB

Trending di Nasional