JAKARTA | Harian Merdeka
Tawaran Prabowo untuk mendamaikan AS dan Israel vs Iran, hanyalah akan menjadi lelucon bagi siapapun yang mendengarnya.
Pengamat ekonomi bisnis dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Nurmadi Harsa Sumarta menilai ambisi Prabowo untuk menjadi juru damai perang akan sia sia, tidak akan membawa hasil apapun. Prabowo tidak akan mendapat mandat, bagi Iran tidak dipercaya, bagi AS dan Israel tidak dianggap.
Beberapa waktu lalu dalam pertemuan di Davos Prabowo sudah menyatakan bergabung Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Trump di dalamnya ada Netanyahu.
Sementara kedua tokoh tersebut yang memulai serangan terhadap Iran.
“Secara nalar tentu Iran tidak akan percaya Prabowo sebagai pihak yang netral. Yang pasti Prabowo tidak punya daya tekan terhadap Trump dan Netanyahu,” kata Nurmadi kepada Harian Merdeka, Rabu (4/3/3026).
Bahkan semua paham, tanpa melibatkan Palestina BoP hanya label kamuflase yang sebenarnya justru semakin jauh dari perdamaian. Bergabungnya dalam BoP tentu membawa kepentingan Israel dalam agenda penguasaan dan penjajahan Gaza.
“Yang tentu saja menjadikan Indonesia tidak lagi netral dan bebas aktif, namun sudah berpihak kepada Israel sebagai penjajah dan pelaku genosida rakyat Palestina,” jelas Nurmadi.
Kebijakan Prabowo tersebut jelas salah arah, tanpa kajian matang dan sia sia. Yang ada Prabowo ingin tampil di panggung Internasional untuk mendapat pujian Trump, tapi justru membuat kecewa rakyat Indonesia.
” Pilihan bergabung BoP tersebut juga menyimpang dari pembukaan UUD 45, untuk menjaga ketertiban dunia dan menggapuskan segala bentuk penjajahan. Menyimpang dari aspirasi dan keberpihakan sebagian besar rakyat atas perjuangan rakyat Palestina,” ucapnya.
Menurutnya , kondisi riil banyak pekerjaan rumah dalam negeri yang prioritas, kehidupan rakyat semakin susah. Banyak pembantu Presiden yang tidak kompeten, bahkan dari Wapres sampai para menterinya.
“Kondisi korban bencana 3 propinsi belum teratasi, program MBG yang kacau dan amburadul, hutang semakin besar, daya beli rakyat menurun dan ekonomi semakin berat. Hal ini menunjukkan Prabowo kurang peka dan peduli terhadap masalah besar di negeri sendiri,” pungkasnya.
“Banyak urusan LN yang gak penting, suka sok sibuk, bicaranya efisiensi namun justru boros dan buang anggaran. Apa yang dilakukan Prabowo jauh dari yang dijanjikan, bahkan bikin KDMP, impor mobil tanpa rencana matang yang tidak pernah ada dalam kampanye,” imbuhnya.
Lebih jauh, Nurmadi menegaakan bahwa Prabowo adalah tipe pemimpin yang kekanak kanakan, reaktif dan emosional. Tampak dari berbagai keluhan dan ejekan warga di berbagai medsos, bukan mawas diri justru nyinyir.
Yang utama Prabowo fokuslah mengurus dalam negeri dulu. Benahi kabinet dan program yang mensejahterakan rakyat.
- Sekiranya mau berperan sebagai mediator, setidaknya harus segera menyatakan keluar dari BoP. Sehingga sedikit dan berangsur mengembalikan netralitas dan kepercayaan berbagai pihak,” terangnya. (Agus ).







