TANGERANG SELATAN | Harian Merdeka
Masalah banjir yang kerap melanda Kota Tangerang Selatan mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk DPRD dan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah titik banjir kembali muncul di wilayah permukiman, mendorong perlunya langkah konkret dan terkoordinasi.
Anggota DPRD Tangsel, Ferdiansyah, mengungkapkan bahwa penanganan banjir sejauh ini belum maksimal dan harus dievaluasi secara menyeluruh. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang simultan dan terintegrasi. Menurutnya, setidaknya ada tiga isu utama yang harus diseriusi oleh Pemkot Tangsel, yaitu banjir, sampah, dan kemacetan. Ketiga permasalahan tersebut saling terkait dan perlu penanganan secara komprehensif.
DPRD mencatat bahwa pekan lalu terdapat genangan di 16 titik banjir yang mayoritas terjadi di kawasan perumahan. Menyikapi kondisi ini, Ferdiansyah mengusulkan langkah strategis yang mencakup penataan ulang drainase agar saling terkoneksi, pembangunan daerah resapan di permukiman, penertiban daerah aliran sungai yang menyempit atau tertutup bangunan, serta inspeksi langsung ke lokasi banjir untuk mengevaluasi pengembangan kawasan permukiman.
Ferdiansyah menilai bahwa upaya yang telah dilakukan Pemkot Tangsel sebenarnya sudah mengarah ke solusi, namun masih bersifat parsial. Ia menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dan keberpihakan anggaran agar solusi yang dijalankan lebih efektif dan menyentuh akar masalah.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, juga telah melakukan tinjauan langsung ke sejumlah lokasi rawan banjir pada Senin, 2 Juni 2025. Kunjungan tersebut mencakup Puskesmas Rawa Buntu, Perumahan Citra Prima Serpong 2, dan Perumahan Legon Serpong.
Di Puskesmas Rawa Buntu, Pilar menemukan masalah pada elevasi tanah yang rendah sehingga menjadi titik akhir aliran air hujan. Di Citra Prima Serpong 2, saluran air berada di dataran rendah dengan belokan dan penyempitan aliran. Sementara di Legon Serpong, sistem turap sempat jebol akibat derasnya air saat hujan besar.
Pilar menegaskan pentingnya survei lapangan agar dapat memahami permasalahan secara detail sebelum dilakukan kajian teknis. Menurutnya, solusi seperti kolam tampung, pelebaran drainase, dan pembangunan turap harus didasarkan pada perencanaan yang matang melalui konsultan teknik lingkungan. Dengan demikian, perhitungan anggaran bisa dilakukan secara tepat dan pelaksanaan proyek menjadi lebih efektif.
Di lokasi Citra Prima Serpong 2, Pilar menilai perlu adanya pelebaran saluran air dan pembangunan turap yang lebih tinggi. Adapun di Legon Serpong, keterlibatan pengembang perumahan dinilai penting untuk mempercepat penanganan. Pilar memastikan dinas terkait akan segera berkoordinasi dengan pihak pengembang.
Ia juga menyebutkan bahwa beberapa wilayah seperti Jalupang dan Pondok Aren kini telah terbebas dari banjir setelah dilakukan perbaikan saluran. Namun, terdapat 19 titik baru yang kini menjadi fokus penanganan akibat penyempitan drainase dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah.
Pilar menegaskan bahwa pemerintah akan mengelola aliran air mulai dari hulu hingga hilir agar banjir dapat diminimalkan. Ia berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan ini secara bertahap dan berkelanjutan.
Ketua RW 02 Kelurahan Rawa Buntu, Usup Supriyadi, mengatakan bahwa banjir yang terjadi pada Sabtu, 31 Mei 2025, merupakan yang pertama sejak tahun 2022. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi banjir agar tidak kembali terjadi.
Melalui sinergi antara DPRD dan Pemkot Tangsel, penanganan banjir diharapkan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan proaktif dan menyeluruh demi melindungi warga dari dampak banjir yang menahun. (Hab)







