MEDAN | Harian Merdeka
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara kembali memperbarui data korban banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara. Hingga Jumat (19/12/2025) pukul 08.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 369 orang, sementara 71 orang masih dinyatakan hilang.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumatera Utara, Porman Mahulae, menyampaikan bahwa selain korban meninggal dan hilang, sebanyak 926 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.
“Korban yang meninggal dunia sebanyak 369 orang, korban luka-luka 926 jiwa, dan 71 orang masih dalam pencarian,” ujar Porman dalam konferensi pers di Kantor Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Ia menjelaskan, bencana banjir dan longsor tersebut berdampak luas terhadap masyarakat. Secara keseluruhan, jumlah warga terdampak mencapai sekitar 1,7 juta jiwa yang tersebar di 19 kabupaten dan kota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.477 kepala keluarga atau sekitar 19.608 jiwa saat ini masih berada di lokasi pengungsian.
Kabupaten Tapanuli Tengah menjadi wilayah dengan dampak terparah. Di daerah tersebut, tercatat 131 orang meninggal dunia, 40 orang dinyatakan hilang, dan 25 orang mengalami luka-luka.
Sementara itu, di Kabupaten Tapanuli Selatan, korban meninggal dunia mencapai 88 orang, dengan 30 orang masih hilang dan 835 orang mengalami luka-luka. Kota Sibolga melaporkan 54 orang meninggal dunia, satu orang hilang, serta 61 orang mengalami luka-luka.
Adapun di Kabupaten Tapanuli Utara, tercatat 36 orang meninggal dunia, dua orang hilang, dan tiga orang mengalami luka-luka. Selain keempat wilayah tersebut, banjir dan longsor juga melanda 15 kabupaten/kota lainnya, antara lain Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Mandailing Natal, Langkat, Deli Serdang, Nias, Serdang Bedagai, Asahan, Batubara, Nias Utara, dan Nias Selatan. Bencana serupa juga terjadi di Kota Padangsidimpuan, Medan, Binjai, dan Tebing Tinggi.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengakui bahwa proses pencarian korban hilang masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan akses alat berat menuju daerah-daerah yang terisolasi akibat bencana.
“Ada daerah yang masih terisolasi sehingga alat berat belum bisa masuk. Namun personel sudah berada di lokasi dan tetap melakukan pencarian,” ujar Bobby saat ditemui di Kota Medan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama instansi terkait terus berupaya mempercepat proses pencarian korban, penyaluran bantuan, serta pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak, sembari mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.(Fj)







