Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Nasional · 7 Feb 2026 17:38 WIB ·

Menkomdigi Ajak Insan Pers Jaga Kualitas Informasi di Tengah Banjir Konten Digital


Menkomdigi Ajak Insan Pers Jaga Kualitas Informasi di Tengah Banjir Konten Digital Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengajak insan pers untuk terus menjaga kualitas informasi publik di tengah percepatan digitalisasi dan banjir konten di ruang digital. Menurutnya, kecepatan penyampaian informasi harus berjalan seiring dengan ketelitian, empati, dan tanggung jawab sosial.

Ajakan tersebut disampaikan Meutya Hafid dalam Diskusi Film “3 Wajah Roehana Koeddoes” yang mengangkat sosok Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional, di Jakarta Selatan, pada Jumat (6/2/2026).

Meutya menegaskan, bahwa ekosistem digital yang serba cepat berpotensi melahirkan konten emosional dan menyesatkan apabila tidak diimbangi dengan sikap profesional dan kepekaan jurnalistik.

“Karena digitalisasi mengutamakan kecepatan, kepekaan dalam tulisan terasa hilang. Padahal dulu kami sangat mengutamakan rasa dalam sebuah tulisan,” ujar Meutya.

Selain itu, Meutya mengingatkan bahwa kebebasan pers sejak awal tidak dimaksudkan untuk merendahkan martabat manusia maupun nilai-nilai budaya bangsa. Dalam konteks ruang digital saat ini, Meutya menilai tantangan semakin besar karena masyarakat dibanjiri konten yang tidak selalu mendidik.

“Media sosial dan media baru ini kemudian diisi dengan karya-karya yang justru tidak mendidik, bahkan sebagian merusak generasi muda,” katanya.

Meutya menilai semangat jurnalistik yang diperjuangkan Roehana Koeddoes sejak 1911 tetap relevan hingga kini. Pers, menurutnya, lahir sebagai alat pendidikan dan pembebasan, bukan semata-mata mengejar kecepatan dan sensasi.

“Saat ini dengan digitalisasi, semua orang dan semua perempuan bisa menulis dan membuat medianya masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana menjaga kualitas dan tanggung jawab dari kebebasan itu,” jelasnya.

Menjelang peringatan Hari Pers Nasional, Meutya mengajak insan pers untuk kembali menempatkan data, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi utama dalam kerja jurnalistik. Dengan demikian, ruang digital Indonesia dapat tetap sehat, beradab, dan melindungi masyarakat.

“Mari kita kembalikan karya-karya yang penuh rasa, penuh data, daripada emosi semata, dan meneruskan semangat yang telah dipelopori oleh Ibu Roehana Koeddoes,” pungkasnya.(Agus).

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Komdigi Pastikan PP Tunas untuk Lindungi Anak dari Risiko Digital

17 April 2026 - 12:14 WIB

Salak Heritage Club Sambangi MPR RI, Bahas Pelestarian Sejarah

16 April 2026 - 12:11 WIB

Waspada Penipuan, Dirlantas Polri Pastikan Pemutihan Pajak Motor 2026 Gratis Hoaks

16 April 2026 - 11:54 WIB

Jatuh Korban Jiwa di Proyek Karian Dam-Serpong Water, BCW : Usut Tuntas

15 April 2026 - 12:51 WIB

Kasus Sri Rahayu Mengguncang Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana Janji Investigasi

15 April 2026 - 12:48 WIB

Kepala BGN Dadan Tegaskan Pengadaan Barang Secara Transparan

14 April 2026 - 17:00 WIB

Trending di Nasional