JAKARTA | Harian Merdeka
Bila bicara data pada level perolehan kursi legislatif DPR RI maka posisi KIM plus menguasai sampai 80%. Sedangkan di DPRD tingkat 1 menguasai 60% kursi, DPRD tingkat 2 juga sekitar 60%.
Rencana menguasai parlemen dengan KIM plus luar biasa. Jadi kemungkinan besar rakyat akan diam selama 5 tahun ke depan untuk menerima semua kebijakan politik, ekonomi dan sosial.
Kalau pun KIM plus ini menjadi koalisii permanen memang hanya PDIP sendiri, tapi bukan menyendiri seperti yang dirasakan Megawati. Sehingga dia memutuskan para calon kepala daerah secara bertahap dan masih tersisa Jakarta, sebagai pertaruhan terakhir.
Mungkinkah Anies dijadikan simbol perlawanan atau malapetaka kedua setelah jokowi?
Secara rekam jejak, Anies berada pada kutub berbeda dengan PDIP. Apabila Anies menjadi merah, terus apa kata dunia politik? Apakah mau PDIP menjadi alat tunggangan, rasanya itu tidak mungkin.
Itu jelas adanya, rekam jejak Anies di DKI yang bersebrangan dengan PDIP dimulai dari Formula E, Rumah DP 0, Monas, pelebaran trotoar, proyek sumur resapan, penjualan saham bir Bintang, izin reklamasi dan OK OCEm pemeriksaan formula E di KPK, Aika Aibon hingga TGUPP.
Apa yang menjadi keseriusan bagi Megawati saat Anies menjadi gubernur DKI yakni ketika Anies merevitalisasi pohon sebanyak 205 pohon di Monas ditebang. Artinya, Istana saja dilawan, apalagi saya sebagai ketua Partai nantinya, bisa apa saya. Mungkin itu pertimbangan utama Megawati untuk memilih atau tdk memilih Anies.
Jadi kita tunggu besok Megawati memilih kepentingan elektoral atau perlawanan atau ideologis ? (dahlan)







