TANGERANG | Harian Merdeka
Di kawasan Sewan Kongsi, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, sebuah rumah sederhana menjadi ruang sunyi tempat tradisi bertahan dari gempuran zaman. Dari bangunan itulah, alunan tehyan—alat musik gesek khas Betawi—masih terus dirawat oleh seorang maestro sepuh bernama Mpe Goyong.
Rumah tersebut tidak menyerupai museum atau sanggar seni pada umumnya. Atap seng yang disangga dan rangka besi mulai memudar warnanya dimakan usia. Di bagian depan, sebuah papan nama bertuliskan Industri Kecil Tehyan Mpe Goyong tampak kusam, namun menyimpan kisah panjang tentang ketekunan menjaga warisan budaya.
Mpe Goyong, yang memiliki nama lahir Oen Sin Yang, kini berusia 74 tahun. Ia dikenal sebagai satu-satunya maestro yang masih aktif memainkan sekaligus membuat tehyan di wilayah tersebut. Ia menjelaskan bahwa tehyan merupakan alat musik tradisional Betawi yang lazim digunakan dalam kesenian gambang kromong dan pertunjukan ondel-ondel.
Gambang kromong sendiri merupakan seni musik hasil pertemuan budaya Betawi dan Tionghoa yang telah berkembang sejak abad ke-18. Tehyan menjadi salah satu instrumen utamanya, dibuat dari kayu dengan resonator berbahan batok kelapa dan dimainkan dengan cara digesek menggunakan busur.
Kecintaan Mpe Goyong terhadap musik tradisional berakar dari lingkungan keluarga. Ayahnya, Oen Oen Hoek, merupakan maestro gambang kromong yang cukup dikenal pada masanya. Sejak kecil, Goyong terbiasa menyaksikan orang tuanya memainkan musik hingga akhirnya ikut belajar secara otodidak.
“Turun-temurun dulu orang tua punya gambang kromong, digunakan bersamaan dengan ondel-ondel,” ujar Goyong mengenang masa kecilnya.
Sejumlah piagam dan penghargaan terpajang di dinding rumahnya. Pada 2023, Mpe Goyong menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam kategori Maestro Seni dan Tradisi.
“Bukan saya sombong, tapi penghargaan saya banyak, saya pajang semua di tembok,” ujarnya sambil menunjuk deretan piagam.
Selain tampil di berbagai panggung budaya, kiprah Mpe Goyong juga pernah menembus layar lebar melalui film Simphony bersama sejumlah artis asal Tiongkok. Ia juga dikenal sebagai perajin tehyan, dengan harga karyanya berkisar mulai Rp400 ribu per unit.
Upaya melestarikan tehyan di tengah arus modernisasi bukan perkara mudah. Goyong mengakui minat generasi muda masih terbatas. “Ada juga anak muda yang beli buat belajar. Sekarang bisa pakai not balok, kalau saya dulu otodidak,” ujarnya.
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menilai keberadaan maestro seperti Mpe Goyong sangat penting dalam menjaga kesinambungan budaya. Menurutnya, tehyan hingga kini masih menjadi instrumen wajib dalam setiap pertunjukan gambang kromong.
“Tehyan adalah bagian tak terpisahkan dari gambang kromong. Setiap pertunjukan, tehyan harus ada,” kata Yahya, Kamis (18/12/2025).
Ia juga melihat adanya ketertarikan generasi muda terhadap seni musik tradisional, meski tantangan tetap besar. Salah satunya adalah semakin jarangnya kesempatan pentas.
“Semakin jarang seni gambang kromong ditanggap. Padahal, semakin sering tampil itu menjadi jaminan regenerasi,” ujarnya.
Yahya menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi seniman tradisi. “Seniman seperti Mpe Goyong harus dirawat, diapresiasi, dan dijaga kebutuhannya. Mereka bukan hanya pelaku seni, tetapi penjaga sejarah,” katanya. (Fj)







