JAKARTA | Harian Merdeka
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menyemarakkan perayaan Tahun Baru Imlek dengan menyelenggarakan Festival Imlek 2026 yang akan digelar pada 1 hingga 3 Februari 2026, berpusat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat nilai kebersamaan, toleransi, serta memperkenalkan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan bahwa festival tersebut menjadi bagian penting dari kalender budaya ibu kota, sekaligus momen untuk mempererat persatuan antarsuku, agama, dan kelompok masyarakat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
“Perayaan Imlek adalah bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia yang patut kita rayakan bersama. Festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan,” ujar Pramono Anung saat memberikan keterangan pers, Rabu (11/2/2026).
Acara Festival Imlek tahun ini mengusung tema yang menonjolkan semangat harmoni dan keberagaman budaya, serta menghadirkan beragam kegiatan yang ramah keluarga dan terbuka untuk seluruh warga ibu kota. Sejumlah kegiatan seni dan budaya akan ditampilkan, mulai dari pertunjukan barongsai, pawai budaya, pagelaran musik tradisional Tionghoa, hingga bazar kuliner yang menyajikan aneka makanan khas Imlek seperti kue keranjang, bakpao, dan berbagai hidangan tradisional lainnya.
Pramono menambahkan bahwa acara ini juga menjadi wadah bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM untuk memperluas jangkauan usahanya melalui keikutsertaan dalam bazar dan stan produk lokal yang disediakan di area festival. “Kita ingin masyarakat tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari festival ini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Yuniarti mengatakan bahwa Festival Imlek tahun ini dipersiapkan lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya. Berbagai panggung utama akan menampilkan kolaborasi seni antara komunitas budaya lokal dengan kelompok seni Tionghoa, termasuk peragaan busana tradisional dan kompetisi barongsai antar komunitas.
“Ini adalah kesempatan untuk menggali lebih dalam kekayaan budaya Tionghoa sekaligus mempromosikannya kepada warga Jakarta dan pengunjung luar kota,” ucap Yuniarti.
Selain pertunjukan seni dan bazar kuliner, festival juga menyuguhkan panggung edukasi yang menghadirkan diskusi soal sejarah Imlek, maknanya dalam konteks keberagaman Indonesia, serta hubungan antar komunitas etnis di ibu kota. Diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap warisan budaya sekaligus memperkuat rasa saling menghormati.
Panitia penyelenggara juga memastikan bahwa rangkaian acara festival akan menerapkan protokol kesehatan dan kenyamanan pengunjung. Beberapa area khusus disiapkan bagi keluarga, anak-anak, dan pelaku difabel agar semua lapisan masyarakat dapat menikmati perayaan dengan aman dan nyaman.
Pramono berharap Festival Imlek 2026 dapat menjadi acara tahunan yang dinanti oleh masyarakat Jakarta dan menjadi contoh bagaimana keberagaman budaya Indonesia dapat dirayakan secara inklusif.
“Kami mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk hadir di Bundaran HI pada 1 sampai 3 Februari. Mari rayakan bersama semangat toleransi, persatuan, dan kebersamaan di Jakarta,” ajak Gubernur Pramono.(kay/Fj)







