Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Nasional · 15 Apr 2025 11:07 WIB ·

Safari Timur Tengah, Great Institute Yakin Prabowo jadi Pemimpin Baru Dunia


Safari Timur Tengah, Great Institute Yakin Prabowo jadi Pemimpin Baru Dunia Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka


Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania dilakukan dalam rangka membangun hubungan politik dan memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional, khususnya di kawasan Global South.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) bertema “Mencermati Arah Politik dan Diplomasi Prabowo di Timur Tengah dan Turki” yang diselenggarakan di kantor Great Institute, Jalan Taman Gunawarman, Jakarta Selatan, pada Senin, 14 April 2025.

Menurut Syahganda, agenda politik dan ekonomi yang diusung Presiden Prabowo dalam lawatan tersebut mendapat sambutan positif dari setiap negara yang dikunjungi. Ia menilai, komitmen Presiden dalam membangun solidaritas global menunjukkan bahwa Prabowo memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin penting dalam skala dunia.

“Melihat komitmennya membangun solidaritas global, Prabowo berpeluang besar menjadi pemimpin baru dunia,” ujar Syahganda.

Senada dengan Syahganda, Direktur Geopolitik Great Institute, Dr. Teguh Santosa, juga memberikan pandangan mendalam dalam forum tersebut. Ia menjelaskan bahwa setiap negara saat ini berada dalam dilema besar akibat arena internasional yang anarkis, di mana tidak ada otoritas tertinggi yang mengatur relasi antarnegara secara adil dan berimbang.

Teguh menekankan pentingnya membangun hubungan internasional yang bebas dari ketergantungan terhadap negara hegemonik manapun.

“Salah besar bila kita mengatakan bahwa antitesa dari ketergantungan pada satu negara hegemonik adalah dengan bersandar pada negara hegemonik lain,” tuturnya.

“Antitesa dari ketergantungan pada satu negara adalah meniadakan ketergantungan pada negara itu, dan pada negara lain,” imbuh Teguh, yang juga merupakan pengajar Ilmu Hubungan Internasional di **UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(rmol/Fj)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

RS Polri Kramat Jati Buka Posko DVI, Keluarga Korban KA Bekasi Harap Melapor

29 April 2026 - 16:55 WIB

Kapolda Banten Tinjau Kendaraan Dinas Jelang Pengamanan May Day

29 April 2026 - 15:04 WIB

Minyakita Mahal di 224 Wilayah, Pengamat: Ganti Budi Santoso

29 April 2026 - 14:54 WIB

Transisi Energi Hijau melalui Ekonomi Karbon

29 April 2026 - 13:27 WIB

Tragedi Kecelakaan KA di Bekasi, Prabowo Pastikan Perkuat Sistem Perlintasan Kereta Api

29 April 2026 - 12:13 WIB

Jamintel Kejagung Luncurkan JAGAIN Guna Hapus Diskriminasi Atlet

29 April 2026 - 11:33 WIB

Trending di Nasional