Menu

Mode Gelap
Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi Isra Miraj Jadi Momentum Pertobatan Ekoteologis, Menag Ajak Umat Berhenti Merusak Alam

Daerah · 17 Mei 2025 11:19 WIB ·

Waspada Ular Tanah! Ratusan Warga Lebak Jadi Korban Gigitan


Waspada Ular Tanah! Ratusan Warga Lebak Jadi Korban Gigitan Perbesar

LEBAK | Harian Merdeka

Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak mencatat sebanyak 247 warga menjadi korban gigitan ular berbisa sepanjang Januari hingga awal Mei 2025. Dari jumlah tersebut, satu orang dilaporkan meninggal dunia saat dirawat di RSUD Banten.

Pelaksana Harian Kepala Dinas Kesehatan Lebak, Endang Komarudin, Kamis (15/05/2025), mengatakan tingginya kasus tersebut disebabkan oleh aktivitas warga yang banyak dilakukan di area pertanian, kebun, dan ladang, terutama di wilayah pedesaan.

“Sebagian besar korban digigit oleh ular tanah (Ankistrodon rhodostoma), yang habitatnya berada di semak-semak, tumpukan kayu, dan area lembab yang tidak terkena sinar matahari langsung,” ujar Endang.

Ia menambahkan, peningkatan kasus gigitan umumnya terjadi pada musim hujan, ketika warga lebih sering membuka lahan baru, sementara ular berbisa juga mencari tempat yang hangat dan kering, termasuk di sekitar rumah warga.

Menurut Endang, sebagian besar korban adalah petani yang tidak menggunakan alat pelindung diri, seperti sepatu bot atau sarung tangan saat bekerja.

“Kami terus melakukan edukasi agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ular tanah. Ular jenis ini dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani secara medis,” katanya.

Dinkes Lebak saat ini menghadapi keterbatasan persediaan serum anti bisa ular (ABU) di 43 puskesmas. Pihaknya telah mengajukan permintaan 1.000 vial ABU ke PT Bio Farma di Bandung. Saat ini, ketersediaan ABU hanya terdapat di RSUD Adjidarmo Rangkasbitung.

Endang menjelaskan, penanganan awal terhadap korban dilakukan di puskesmas melalui observasi medis. Jika kondisi pasien memerlukan penanganan lanjutan, maka akan dirujuk ke rumah sakit rujukan.

Ketua Sahabat Relawan Indonesia (SRI), Muhammad Arif Kirdiat, mencatat dari Januari hingga Mei 2025 terdapat 28 warga Baduy yang menjadi korban gigitan ular, dengan dua orang di antaranya meninggal dunia.

“Sebagian besar korban terkena gigitan saat membuka ladang. Kami menekankan pentingnya penanganan medis karena metode tradisional seperti jampi-jampi tidak efektif,” ujarnya.

Muhammad Arif menyampaikan rencana mendatangkan serum ABU dari Thailand untuk menutupi kekurangan pasokan dalam negeri.

Sementara itu, Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, berharap Pemerintah Provinsi Banten segera memenuhi kebutuhan ABU di wilayahnya.

“Kami harap Gubernur Banten bisa membantu menyediakan serum ABU di puskesmas kami, karena masyarakat Baduy tinggal di kawasan hutan dan sangat rentan terkena gigitan ular berbisa,” ucapnya. (eem/dam)

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kepulan Debu Putih Selimuti Ciater, Warga Duga Kebocoran PT Adhimix

18 Februari 2026 - 13:43 WIB

Survei Indikator Politik: Kepuasan Publik terhadap Dedi Mulyadi Tembus 95,5 Persen

18 Februari 2026 - 13:38 WIB

Penyelidikan Penembakan Suami Legislator Jateng Mengarah ke Oknum DPR RI

18 Februari 2026 - 13:35 WIB

Jelang Ramadan, Wabup Intan Santuni 115 Anak Yatim di Pagedangan

18 Februari 2026 - 13:34 WIB

Maesyal Rasyid Resmikan KDMP Palasari, Dorong Ekonomi Desa

18 Februari 2026 - 13:30 WIB

Masuk Tahun Kedua, Mualem–Dek Fad Didesak Rombak Birokrasi Aceh

18 Februari 2026 - 13:05 WIB

Trending di Daerah