Menu

Mode Gelap
Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi Isra Miraj Jadi Momentum Pertobatan Ekoteologis, Menag Ajak Umat Berhenti Merusak Alam

Ekbis · 1 Des 2025 13:42 WIB ·

5 Pabrik Tekstil Tutup, Ribuan Buruh di PHK


5 Pabrik Tekstil Tutup, Ribuan Buruh di PHK Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Industri tekstil merana. Hingga akhir tahun 2025, sebanyak 5 pabrik tekstil berhenti beroperasi hingga menutup usahanya. Akibatnya, sekira 3000 buruh tekstil terkena dampaknya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi mengatakan pemutusan karyawan diperkirakan mencapai 3 ribu orang.

Menurutnya, hal ini menjadi tanda deindustrialisasi terjadi di Indonesia. “Tutupnya 5 perusahaan tersebut disebabkan kerugian serius akibat penjualan yang tidak maksimal di pasar domestik. Banjirnya produk impor dengan harga dumping berupa kain dan benang jadi faktor utama tutupnya perusahaan ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (30/11.

“Saat ini ada 6 pabrik lainnya yang produksinya sudah di bawah 50%, bahkan sudah ada yang on-off. 5 mesin polimerisasi sudah stop, tidak produksi lagi,” tambah Farhan.

Farhan memperkirakan penutupan pabrik tekstil lainnya masih dapat berlanjut pada 2026 jika pemerintah tidak bisa mengontrol dan memberikan transparansi ke publik terkait di balik penerima kuota impor paling banyak. Menurutnya, pemerintah tentu mengetahui karena setiap adanya produk impor yang masuk melalui pelabuhan besar, maka akan tercatat di dalam sistem bea cukai.

“Data itu mudah untuk didapatkan bagi pemerintah. Ini kami tinggal tunggu action-nya saja. Karena jika tidak ada tindakan korektif, 6 perusahaan lainnya akan menyusul bangkrut karena tidak bisa menjual produknya di pasar domestik. Selain itu, anggota kami tidak bisa menentukan rencana produksi di tahun depan karena tidak ada transparansi kuota impor yang diberikan pemerintah. Deindustrialisasi benar-benar terjadi,” imbuh Farhan.

Farhan juga mengapresiasi tindakan Menteri Keuangan yang berkomitmen untuk menghentikan laju impor ilegal. Penyelidikan impor thrifting diyakini bisa membongkar praktik kecurangan dalam mekanisme tata niaga impor.

“Dalam impor thrifting itu bisa ketahuan siapa pengimpornya hingga backing-backing-nya. Penegak hukum juga bisa didalami siapa menyebabkan kerugian negara, kami meyakini bahwa birokrat yang terlibat sama-sama saja dan sudah terafiliasi dengan matang,” jelas Farhan.

Berikut lima perusahaan yang tutup:

1. PT. Polychem Indonesia yang memproduksi tekstil di Karawang

2. PT. Polychem Indonesia di Tangerang

3. PT. Asia Pacific Fibers yang memproduksi serat polyester di Karawang

4. PT. Rayon Utama Makmur yang merupakan bagian Sritex Group yang memproduksi serat rayon

5. PT. Susilia Indah Synthetics Fiber Industries (Sulindafin) yang memproduksi serat & benang polyester di Tangerang. (jr)

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tembus Rp3,047 Juta, Harga Emas Antam Hari Ini Melonjak Rp8.000

10 Maret 2026 - 15:07 WIB

Bapanas Jelaskan Soal Indeks Harga Pangan: Kenaikan Tak Selalu Berarti Melebihi Batas

10 Maret 2026 - 15:04 WIB

Hotel Santika Premiere Bintaro Beri Kejutan Kuliner Lewat Promo Spesial Maret

10 Maret 2026 - 11:17 WIB

KPPU: Kami Tidak Akan Segan Beri Sanksi Jika Ada Permainan Harga Tiket Pesawat

9 Maret 2026 - 15:23 WIB

Momen Humanis: Respons Santai Menkeu Purbaya Saat Diteriaki ‘Minta THR’ oleh Pedagang Tanah Abang

9 Maret 2026 - 15:19 WIB

Bukan Marah, Begini Jawaban Santai Menkeu Purbaya Saat Ditagih THR oleh Pedagang Tanah Abang

9 Maret 2026 - 15:14 WIB

Trending di Ekbis