Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Bisnis · 13 Des 2024 14:04 WIB ·

Kementerian ESDM Sebut Stok BBM 8,6 Juta KL


Kementerian ESDM Sebut Stok BBM 8,6 Juta KL Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat stok penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) mencapai 8,6 juta kiloliter (KL). Jumlah itu berada di fasilitas penyimpanan yang tersebar di 356 lokasi dengan rincian 167 lokasi fasilitas penyimpanan milik PT Pertamina (Persero) dan non Pertamina 159 lokasi.

“Untuk infrastruktur BBM, kapasitas penyimpanan BBM nasional sebesar 8,6 juta kiloliter dengan jumlah sarana fasilitas penyimpanan di 356 lokasi,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung saat gelaran Hilir Migas Conference & Expo dan BPH Migas Awards 2024, dikutip detikcom, Kamis (12/12).

Di sisi distribusi BBM dilakukan melalui 9.425 penyalur, terdiri dari 7.374 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), 618 SPBU kompak, 604 stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN), 289 IMT, dan 580 penyalur BBM satu harga yang tersebar di daerah 3T.

Konsumsi minyak nasional sepanjang 2023 mencapai 518 juta barel, dipenuhi dari produksi dalam negeri sebesar 221 juta barel dan impor minyak nasional 297 juta barel. Di mana, terdiri dari 129 juta barel dalam bentuk minyak mentah dan 168 juta barel dalam bentuk BBM.

Adapun, konsumsi BBM nasional berdasarkan pengguna tahun 2023, yaitu sektor transportasi 248 juta barel atau 49%, sektor industri 171 juta barel atau 34%, sektor kendaraan listrik 38,5 juta barel atau 8%, dan sektor penerbangan aviasi 28,5 juta barel atau sekitar 6%.

“Secara nasional perkiraan kebutuhan gas bumi hingga tahun 2030 dapat dipenuhi dengan pemanfaatan proyek dan potensial, serta mengoptimalkan peranan dari LNG,” paparnya.

Yuliot menjelaskan, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi terus ditingkatkan agar bisa memberi nilai tambah di dalam negeri.

Untuk ketahanan energi perlu diupayakan ketersediaan berbagai sumber energi yang cukup dan terjangkau, baik migas, batu bara, ketenagalistrikan, dan energi baru terbarukan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian sebesar 8%.

“Sebagai gambaran, bauran energi sampai dengan Juni 2024, sumber energi masih didominasi oleh batu bara sebesar 39,48%, sementara minyak bumi 29,9%, dan gas bumi 16,69%, dan dari energi baru terbarukan sekitar 13,93%,” ucap dia.

Di lain pihak untuk mengurangi laju konsumsi BBM, pemerintah berupaya untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik dan energi baru dan terbarukan (EBT). (jr)

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kemendag Jembatani Pelaku Usaha Indonesia dengan Buyer dari Lima Negara, Buka Peluang Ekspor ke Pasar Nontradisional

23 Juni 2026 - 13:28 WIB

Kebijakan SPK TKBM di KSOP Satui Disorot, Pengguna Jasa Nilai Ganggu Kenyamanan Berusaha

22 Juni 2026 - 14:42 WIB

Produk Halal Unggulan Indonesia Unjuk Gigi di Halal Expo Canada 2026

21 Juni 2026 - 21:32 WIB

Pakar Ekonomi : UMKM Harus Siap Bersaing di era Ekonomi Digital Hadapi Persaing Poduk luar

19 Juni 2026 - 16:48 WIB

Saham PSKT Respons Positif Penunjukan Eka Sastra Sebagai Dirut

19 Juni 2026 - 14:58 WIB

Arif Rahman: Kadin Bukan Sekadar Wadah, Harus Jadi Penggerak Ekonomi

19 Juni 2026 - 14:54 WIB

Trending di Bisnis