Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Nasional · 17 Okt 2025 11:35 WIB ·

Indonesia Diprediksi Bakal Cepat Tenggelam


Indonesia Diprediksi Bakal Cepat Tenggelam Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Sejumlah wilayah Indonesia diprediksi bakal tenggelam lebih cepat dari perkiraan. Itu bukan karena dampak perubahan iklim, tapi aktivitas tektonik dan masalah infrastruktur.

“Indonesia lebih parah karena tenggelamnya tidak hanya karena kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim. Secara tektonik, ini pulaunya itu semakin turun secara tektonik,” kata Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam acara Insight with Desi Anwar, dikutip cnnindonesia com, Minggu (5/10).

“Jadi kecepatan penurunan atau kenaikan muka air laut itu mencapai lebih dari 4 sentimeter dalam per tahun,” sambungnya.

Lebih lanjut, Dwikorita mengatakan hal ini harus direspons dengan adaptasi dan mitigasi. Mitigasi sendiri harus dilakukan dengan gotong royong berbagai pihak. Salah satu yang ia soroti adalah sisi tata kelola lahan dan sumber daya air. Ia menyebut kedua variabel ini harus terkelola dengan baik.

Pasalnya, meski sudah dikelola dengan baik, potensi banjir dan tanah longsor masih mungkin terjadi.

“Karena infrastruktur yang ada saat ini, itu didesain berdasarkan kondisi iklim dan cuaca sebelum ada isu perubahan iklim. Seperti bendungan, itu ada yang dibangun, didesain di tahun 1950, di desain tahun 1960 atau bahkan sebelumnya,” katanya.

Saat sejumlah infrastruktur dirancang di masa lalu, kata Dwikorita, variabel perubahan iklim belum masuk perhitungan.

Oleh karena itu, kebijakan saat ini perlu juga menyoroti variabel tersebut. Ia mengatakan kebijakan bukan hanya untuk mencegah bencana, tetapi juga menyiapkan ketahanan pangan hingga ketahanan energi.

“Karena tata kelola air ini juga terkait swasembada pangan, ketahanan energi, ketahanan air itu semestinya harus sains based. Sains based policy itu harus kuat,” tuturnya.

Di informasikan, sebuah riset yang dirilis Nature Communication pada 29 Oktober 2019 mengungkapkan sejumlah negara, termasuk Indonesia, akan tenggelam pada tahun 2050. Penelitian itu mengungkapkan permukaan laut akan mengalami kenaikan sekitar 30 hingga 50 sentimeter.

Sebanyak lebih dari 150 juta orang saat ini disebut tinggal di wilayah dengan ketinggian di bawah permukaan laut. Pearl River Delta di China, Bangladesh, Jakarta, dan Bangkok diperkirakan akan menjadi kota yang tenggelam tersebut.

“Kami menemukan bahwa lebih dari 70 persen dari jumlah orang di seluruh dunia yang saat ini hidup di tanah yang terlibat berada di delapan negara Asia: Cina, Bangladesh, India, Vietnam, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Jepang,” tulis laporan tersebut. (jr)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

RS Polri Kramat Jati Buka Posko DVI, Keluarga Korban KA Bekasi Harap Melapor

29 April 2026 - 16:55 WIB

Kapolda Banten Tinjau Kendaraan Dinas Jelang Pengamanan May Day

29 April 2026 - 15:04 WIB

Minyakita Mahal di 224 Wilayah, Pengamat: Ganti Budi Santoso

29 April 2026 - 14:54 WIB

Transisi Energi Hijau melalui Ekonomi Karbon

29 April 2026 - 13:27 WIB

Tragedi Kecelakaan KA di Bekasi, Prabowo Pastikan Perkuat Sistem Perlintasan Kereta Api

29 April 2026 - 12:13 WIB

Jamintel Kejagung Luncurkan JAGAIN Guna Hapus Diskriminasi Atlet

29 April 2026 - 11:33 WIB

Trending di Nasional