JAKARTA | Harian Merdeka
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, meminta seluruh kader partai untuk lebih adaptif dan kreatif dalam menghadapi persaingan politik menuju Pemilu 2029 yang berlangsung di tengah dominasi era digital.
Bahlil menegaskan bahwa peta demografi pemilih pada 2029 akan didominasi kelompok usia produktif. “Jumlah pemilih berusia 17 sampai 50 tahun di 2029 mencapai 73 persen, dan ini era digital. Konsolidasi harus habis-habisan, serta menyesuaikan dengan pola baru,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, kemarin.
Menurut Bahlil, strategi politik kini mengalami perubahan signifikan. Meskipun konsolidasi konvensional tetap diperlukan, pendekatan berbasis digital menjadi kunci untuk menarik perhatian pemilih. Ia menyoroti pentingnya kreativitas, komunikasi terbuka, dan kemampuan memahami karakter pemilih yang dinamis di media sosial.
Lebih lanjut, ia mengingatkan kader mengenai sejarah panjang Partai Golkar sebagai partai yang inklusif. Golkar, kata Bahlil, lahir dari 97 organisasi kemasyarakatan, mulai dari kelompok petani, nelayan, TNI/Polri, organisasi mahasiswa, hingga organisasi keagamaan.
“Golkar lahir untuk mempertahankan ideologi Pancasila dari ancaman ideologi lain. Golkar milik rakyat Indonesia, bukan milik satu keluarga atau satu kelompok,” tegasnya.
Dengan latar belakang tersebut, Bahlil menilai Golkar memiliki modal besar untuk menjaga keterbukaan, keberagaman, serta tetap dekat dengan masyarakat.
Selain itu, ia mengingatkan kembali bahwa Golkar adalah partai dengan rekam jejak panjang dalam pemerintahan. “32 tahun negara ini dipimpin Golkar, dengan segala plus minusnya. Itu bukti pengalaman panjang kita dalam membangun bangsa,” ujar Bahlil.
Ia berharap seluruh kader mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan terus memperkuat konsolidasi demi memenangkan Pemilu 2029.(tfk/hmi)







