JAKARTA| Harian Merdeka
Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari mengingatkan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ia menilai krisis berkepanjangan yang kembali terjadi di Venezuela berpotensi memicu gejolak internasional, khususnya di sektor energi dan minyak bumi, yang dampaknya dapat menjalar hingga kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Ratna menegaskan, terlepas dari dinamika dan kepentingan politik global yang melingkupi konflik Venezuela, Indonesia tidak boleh lengah terhadap risiko tidak langsung yang bisa mengganggu stabilitas energi nasional.
“Terlepas dari faktor politik dan lainnya, saya kira yang paling penting bagi Indonesia adalah memperkuat ketahanan energi kita sendiri. Krisis di Venezuela tentu berpotensi berdampak ke Asia, termasuk Indonesia. Apalagi motif utama dari konflik dan tekanan internasional terhadap Venezuela sejak lama tidak bisa dilepaskan dari persoalan minyak,” ujar Ratna di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menyatakan, kasus Venezuela menjadi bukti nyata bahwa energi tidak lagi sekadar komoditas ekonomi, melainkan telah berubah menjadi instrumen geopolitik yang sangat menentukan stabilitas sebuah negara.
Menurut Ratna, terdapat sejumlah pelajaran penting yang harus menjadi refleksi serius bagi Indonesia. Pertama, kekayaan sumber daya energi tidak otomatis menjamin kedaulatan negara. Venezuela yang memiliki cadangan minyak sangat besar justru terpuruk akibat ketergantungan pada satu sektor energi, minimnya diversifikasi, serta lemahnya tata kelola.
“Venezuela adalah contoh nyata bahwa negara kaya energi bisa runtuh ketika pengelolaannya tidak berkelanjutan dan terlalu bergantung pada satu komoditas,” ujarnya.
Kedua, Ratna menilai energi kerap dijadikan pintu masuk intervensi ekonomi dan politik oleh kekuatan global. Karena itu, ia mendorong pemerintah Indonesia untuk memastikan kebijakan energi nasional tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan dan dinamika internasional.
Sekretaris DPP PKB Bidang Sumber Daya Alam itu juga menekankan bahwa kedaulatan energi merupakan bagian tak terpisahkan dari ketahanan nasional. Energi, menurutnya, tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan teknis, melainkan menyangkut aspek ekonomi, sosial, hingga stabilitas politik nasional.
“Indonesia tidak boleh menunggu krisis datang baru bereaksi. Kasus Venezuela harus menjadi alarm dini bahwa ketahanan energi adalah fondasi utama kedaulatan negara,” tegas Ratna.
Ia pun mendorong pemerintah untuk mempercepat diversifikasi energi, memperkuat tata kelola sektor energi, serta mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi tertentu agar Indonesia lebih siap menghadapi guncangan global.(tfk/rhm)







