Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 7 Jan 2026 14:00 WIB ·

Indonesia Tutup Pintu Daging Babi dari Spanyol


Indonesia Tutup Pintu Daging Babi dari Spanyol Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Pemerintah Indonesia melalui Badan Karantina Indonesia resmi melarang pemasukan daging babi dan seluruh produk turunannya dari Spanyol. Kebijakan tegas ini diambil menyusul laporan wabah African Swine Fever (ASF) yang kembali merebak di negara tersebut.

“Berdasarkan laporan World Organisation for Animal Health (WOAH), kami menginstruksikan seluruh unit pelaksana teknis Barantin dan petugas karantina untuk meningkatkan kewaspadaan serta pengetatan lalu lintas daging babi dan produknya dari Spanyol,” ucap Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (6/1/2026).

Sebagai langkah pencegahan agar ASF tidak masuk ke wilayah Indonesia, Barantin menegaskan bahwa daging babi dan produk turunannya asal Spanyol tidak diperbolehkan masuk ke Tanah Air hingga kondisi kesehatan hewan di negara tersebut dinyatakan pulih berdasarkan laporan resmi WOAH.

WOAH mencatat kejadian ini sebagai recurrence of an eradicated disease, yakni kemunculan kembali penyakit yang sebelumnya telah dinyatakan bebas sejak 1994 dan kini berstatus wabah yang masih berlangsung.

“Jika terjadi adanya pemasukan daging babi dari Spanyol, maka akan dilakukan tindakan karantina penolakan dan atau pemusnahan,” tegas Sriyanto.

ASF merupakan penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan tingkat kematian hingga 100 persen. Virus ASF dikenal sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif resisten terhadap desinfektan.

Meski tidak membahayakan kesehatan manusia, ASF memiliki dampak yang menghancurkan terhadap populasi babi dan menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi sektor peternakan. Virus ini dapat bertahan pada pakaian, sepatu bot, roda kendaraan, hingga berbagai benda lainnya.

Selain itu, virus ASF juga mampu bertahan hidup di berbagai produk olahan daging babi seperti ham, sosis, dan bacon. Oleh karena itu, mobilitas manusia maupun peredaran komoditas barang menjadi faktor krusial dalam penyebaran penyakit ASF lintas wilayah dan negara. (tfk)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Manajemen Baru Pelindo Hasilkan Kepuasan Pelanggan Pelindo

30 April 2026 - 20:08 WIB

Produksi Solid Kuartal I 2026, PKT Catat Capaian 2,14 Juta Ton

29 April 2026 - 16:50 WIB

Forum Pemred Multimedia dan MitMe.id Jalin Kerjasama Strategis Monetisasi dan Penguatan Brand Media Nasional dan Daerah

28 April 2026 - 13:22 WIB

Pemerintah Genjot Digitalisasi Koperasi Desa

27 April 2026 - 13:33 WIB

Lurah Dedi : Koperasi Merah Putih Jurangmangun Barat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

24 April 2026 - 13:42 WIB

DJP Gencar Kejar Pajak di Sektor Digital, Jam Tangan hingga Rumah Mewah

21 April 2026 - 17:11 WIB

Trending di Ekbis