JAKARTA | Harian Merdeka
Indonesia yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia dinilai belum memiliki posisi strategis dalam rantai perdagangan kopi global. Meski memiliki volume produksi besar dan keragaman jenis kopi, penentuan harga dan pusat perdagangan komoditas tersebut masih didominasi negara-negara Barat.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menilai kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi Indonesia untuk mengambil peran yang lebih kuat dalam perdagangan kopi dunia. Menurutnya, Indonesia seharusnya tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga sebagai pusat perdagangan dan penentu harga kopi global.
“Indonesia adalah produsen kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Kolombia. Kita punya kopi arabika, robusta, hingga kopi luwak. Namun pusat perdagangan kopi selama ini masih banyak berpusat di Inggris,” ujar Anindya melalui keterangan tertulis, Selasa (13/1/2026).
Ia menjelaskan, dominasi pusat perdagangan kopi di luar negeri menyebabkan negara produsen, termasuk Indonesia, belum sepenuhnya menikmati nilai tambah dan kendali harga dari komoditas tersebut. Padahal, dengan besarnya volume produksi dan kekayaan varietas kopi, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi hub perdagangan kopi di tingkat regional maupun global.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan United States Department of Agriculture (USDA) periode 2023–2024, Indonesia tercatat sebagai negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Produksi kopi nasional berada di kisaran 654.000 hingga 789.000 ton per tahun atau menyumbang sekitar 6–7 persen dari total produksi kopi dunia, dengan dominasi kopi robusta.
Anindya menilai momentum internasional seperti penyelenggaraan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Business Advisory Council (ABAC) Meeting I yang akan digelar di Jakarta pada Februari 2026 dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal untuk memperkenalkan Indonesia sebagai pusat perdagangan kopi. Forum tersebut akan mempertemukan para pemimpin dunia usaha dari 21 negara anggota APEC.
“Ini momentum besar untuk memperluas jejaring dagang dan memperkenalkan Indonesia bukan hanya sebagai produsen kopi, tetapi juga sebagai pusat perdagangan kopi dunia,” kata Anindya.
Menurutnya, penguatan peran Indonesia dalam perdagangan kopi global harus didukung oleh ekosistem yang terintegrasi, mulai dari sistem perdagangan, pembiayaan, logistik, hingga platform business matching yang mampu mempertemukan penjual dan pembeli secara langsung tanpa perantara yang panjang.
Ia juga menyoroti keberadaan platform business matching daring milik Kementerian Perdagangan RI yang dinilai dapat menjadi fondasi penting dalam mendorong perdagangan kopi lintas negara. Dalam dua tahun terakhir, platform tersebut telah mencatat transaksi hampir mencapai 150 juta dolar AS dan membuka akses pasar global bagi pelaku usaha, termasuk UMKM.
“Dengan ekosistem yang tepat, Indonesia tidak hanya mengekspor kopi mentah, tetapi juga mampu mengendalikan perdagangan dan nilai tambahnya. Ke depan, pusat perdagangan kopi idealnya juga bisa berada di Indonesia,” pungkas Anindya.(rhm/con)







