JAKARTA | Harian Merdeka
Ancaman krisis ekonomi 2030 diprediksi akan berdampak pada negara Indonesia.
Pasalnya krisis ekonomi akibat perubahan iklim yang mengganggu sumber daya dan bencana alam, disrupi teknologi (AI) yang menggantikan pekerjaan, utang global tinggi, konflik geopolitik, dan potensin devaluasi mata uang atau dominasi dolar AS.
Melihat ancaman ekonomi 2030,
Pengamat Ekonomi Universitas Trisakti,Willy Arafah mengatakan dalam menghadapi tantangan ekonomi 2030, pemerintah berperan krusial dalam menjaga stabilitas makroekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter yang terukur.
” Strategi kuncinya meliputi transformasi struktur ekonomi ke arah digital dan hijau, penguatan kemandirian sektor pangan dan energi, serta penyediaan jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan,” kata Willy kepada Harian Merdeka, Selasa (20/1/2026).
Hal ini didukung oleh regulasi yang inklusif untuk memperkuat sektor UMKM dan investasi demi menjaga ketangguhan ekonomi nasional.
Willy menegaskan, penyampaian informasi mengenai potensi krisis harus dilakukan secara jujur dan terkendali guna menumbuhkan kesiapsiagaan publik serta mendorong kerja sama kolektif tanpa menimbulkan keresahan yang tidak perlu.
Menurutnya, guna melewati tantangan ekonomi 2030, penguatan ketahanan pangan dan energi harus dipadukan dengan peningkatan daya saing SDM berbasis literasi digital sejak dini.
Langkah strategis ini perlu didukung oleh kedisiplinan fiskal nasional, perluasan sektor ekonomi produktif, serta penyediaan infrastruktur strategis yang menjamin efisiensi distribusi.
” Dengan konsolidasi berbagai sektor tersebut, fondasi ekonomi nasional akan semakin solid dan tangguh dalam merespons ketidakpastian global,” ujarnya.
Selain itu, kata Guru Besar Universitas Trisakti ini, strategi Indonesia menghadapi 2030 bertumpu pada hilirisasi industri serta akselerasi ekonomi digital dan hijau. Langkah ini diperkuat melalui kedaulatan pangan-energi dan disiplin fiskal guna mengurangi ketergantungan impor.
“Dengan dukungan infrastruktur dan pemberdayaan UMKM, pemerintah berupaya membangun struktur ekonomi domestik yang mandiri dan tangguh terhadap gejolak global,” ucapnya.
Dia menambahkan, resiliensi individu menghadapi krisis 2030 dibangun di atas fondasi disiplin finansial, peningkatan keahlian kerja, dan keragaman sumber pendapatan.
“Dengan menjaga efisiensi belanja serta membangun kemandirian pangan di lingkup terkecil, masyarakat mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan mandiri dalam merespons guncangan eksternal di masa depan,” tutupnya.(Agus).







