JAKARTA | Harian Merdeka
Bank Indonesia (BI) meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) Tahun 2025 yang menegaskan ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik global yang masih tinggi.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2025 tetap berkinerja baik dan menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat di tengah tingginya gejolak ekonomi dan geopolitik global,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam laporan tersebut di Jakarta, Rabu.
Dalam laporan itu, kinerja ekonomi Indonesia dinilai menjadi salah satu yang terbaik di kelompok Emerging Market Economies (EMEs), ditopang oleh pertumbuhan yang relatif tinggi serta stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga. Inflasi berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, sementara nilai tukar rupiah terkendali berkat komitmen kebijakan yang kuat.
Stabilitas sistem keuangan juga dinyatakan tetap solid, tercermin dari permodalan perbankan yang kuat dan tingkat risiko kredit bermasalah yang rendah. Di sisi lain, digitalisasi sistem pembayaran tumbuh pesat dan semakin memperkuat ekosistem ekonomi-keuangan digital nasional, yang secara keseluruhan menopang pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025.
Perry menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif bangsa yang ditopang sinergi kebijakan antara BI, pemerintah pusat dan daerah, serta otoritas terkait. Seluruh bauran kebijakan BI sepanjang 2025 diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas, sekaligus bersinergi erat dengan program Asta Cita pemerintah.
Ia merinci sejumlah kebijakan utama yang ditempuh BI. Pertama, penurunan suku bunga kebijakan BI-Rate sebanyak lima kali dengan total penurunan 125 basis points (bps) hingga mencapai 4,75 persen pada Desember 2025, yang menjadi level terendah sejak 2022.
Kedua, kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah untuk menjaga ketahanan eksternal perekonomian nasional dari dampak gejolak global. Ketiga, ekspansi likuiditas moneter melalui strategi operasi moneter pro-market guna memperkuat transmisi penurunan suku bunga, meningkatkan likuiditas, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.
Selanjutnya, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sejalan dengan kebijakan moneter yang ekspansif. Kebijakan kelima berupa pemberian insentif likuiditas makroprudensial (KLM) kepada perbankan untuk mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas pemerintah dalam kerangka Asta Cita.
Poin terakhir adalah percepatan sistem pembayaran digital yang terus diarahkan untuk memperkuat ekonomi-keuangan digital nasional, guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inklusif.
Lebih lanjut, Perry menyampaikan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 memberikan tiga pelajaran penting. Pertama, kebijakan makroekonomi yang konsisten dan berhati-hati harus terus ditempuh karena menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Kedua, kebijakan tersebut harus ditopang sinergi kuat antara BI, pemerintah pusat dan daerah, serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) agar efektivitas penjagaan ketahanan ekonomi dari rambatan gejolak global semakin optimal.
Ketiga, keberhasilan kebijakan sangat ditentukan oleh kombinasi kepemimpinan profesional dan kompetensi tinggi dalam perumusan kebijakan (book smart), pengalaman kuat dalam implementasi (street smart), serta komitmen untuk terus memegang teguh akhlak mulia (spiritual smart).
Meski optimistis terhadap prospek ekonomi ke depan, Perry mengingatkan agar kewaspadaan tetap dijaga mengingat ketidakpastian global yang masih berlanjut dan berpotensi memberi dampak negatif terhadap perekonomian nasional.
“Ke depan, kita harus tetap optimis sekaligus ‘Eling lan Waspodo’ (tetap sadar dan berhati-hati) di tengah gejolak dunia yang masih akan terus berlanjut,” ujar Gubernur BI.(kay/Fj)







