Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Ekbis · 30 Jan 2026 14:45 WIB ·

IHSG Anjlok, Dirut BEI Mundur


IHSG Anjlok, Dirut BEI Mundur Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam selama dua hari perdagangan berturut-turut dan berujung pada pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman. Pengunduran diri tersebut disampaikan Iman pada Jumat (30/1/2026) sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak pasar modal.

Pada perdagangan Rabu (28/1), IHSG melemah hingga 7,35 persen ke level 8.320,55 dan memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada sesi II. Tekanan berlanjut keesokan harinya. Kamis (29/1), IHSG kembali anjlok hingga 8 persen pada sesi I sehingga BEI kembali memberlakukan trading halt. Meski sempat menguat saat penutupan, IHSG tetap ditutup turun 1,06 persen ke level 8.232,20.

Menanggapi kondisi tersebut, Iman Rachman menyatakan pengunduran dirinya secara terbuka di Gedung BEI, Jakarta.

“Dua hari terakhir bagaimana kondisi market kita dua hari terakhir, ya walaupun kondisi kita pagi hari ini membaik, saya ingin menyampaikan statement dan ini tidak ada tanya-jawab bahwa saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri,” ujar Iman.

Ia berharap langkah tersebut menjadi keputusan terbaik bagi pasar modal Indonesia. “Mudah-mudahan indeks kita yang pagi ini membuka membaik, akan terus membaik hari-hari berikutnya,” imbuhnya.

Anjloknya IHSG dipicu dua sentimen utama, yakni pengumuman MSCI terkait transparansi free float serta pemangkasan peringkat pasar modal Indonesia oleh Goldman Sachs. MSCI mengumumkan pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), Number of Shares (NOS), serta penambahan konstituen indeks hingga Februari 2026.

MSCI menyebut kebijakan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko investasi dan memberi waktu bagi otoritas pasar meningkatkan transparansi. Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status Indonesia, termasuk potensi penurunan bobot saham Indonesia dalam Indeks Pasar Berkembang atau reklasifikasi menjadi frontier market.

Sementara itu, Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia dari market weight menjadi underweight. Lembaga keuangan global tersebut memperkirakan aksi jual bersih asing bisa mencapai US$2,2 miliar, bahkan hingga US$7,8 miliar dalam skenario terburuk.

“Kami memperkirakan pasar akan tetap berada di bawah tekanan dan tidak melihat ini sebagai titik masuk,” kata para ahli strategi Goldman Sachs, dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026). (fj)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Manajemen Baru Pelindo Hasilkan Kepuasan Pelanggan Pelindo

30 April 2026 - 20:08 WIB

Produksi Solid Kuartal I 2026, PKT Catat Capaian 2,14 Juta Ton

29 April 2026 - 16:50 WIB

Forum Pemred Multimedia dan MitMe.id Jalin Kerjasama Strategis Monetisasi dan Penguatan Brand Media Nasional dan Daerah

28 April 2026 - 13:22 WIB

Pemerintah Genjot Digitalisasi Koperasi Desa

27 April 2026 - 13:33 WIB

Lurah Dedi : Koperasi Merah Putih Jurangmangun Barat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

24 April 2026 - 13:42 WIB

DJP Gencar Kejar Pajak di Sektor Digital, Jam Tangan hingga Rumah Mewah

21 April 2026 - 17:11 WIB

Trending di Ekbis