Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Kesehatan · 9 Feb 2026 16:27 WIB ·

Ketua YKI Ajak Masyarakat Waspadai Risiko Kanker dari Pola Makan Modern


Ketua YKI Ajak Masyarakat Waspadai Risiko Kanker dari Pola Makan Modern Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo menyoroti angka pengidap kanker di Indonesia terus meningkat seiring perubahan gaya hidup.

Ia juga mengaku prihatin banyak pasien kanker datang berobat sudah dalam kondisi stadium lanjut. Padahal, kanker akan lebih mudah diobati dan berpeluang sembuh total jika terdeteksi sejak dini.

“Kondisi ini membuat banyak pejuang kanker harus menguras penghasilan. BPJS Kesehatan memang menanggung pengobatan kanker, tetapi pada stadium lanjut ada obat-obatan tertentu yang tidak ditanggung. Karena itu edukasi menjadi solusi paling tepat,” beber Prof Aru saat ditemui di Jakarta, Sabtu (5/2/2026).

Ia mengingatkan hanya sekitar 10 persen kanker disebabkan faktor keturunan. Artinya, 90 persen atau sebagian besar berkaitan dengan faktor lingkungan dan gaya hidup tidak sehat.

Salah satu yang disorot adalah meningkatnya konsumsi makanan ultra processed food (UPF) seperti daging olahan siap makan. Menurutnya, makanan jenis ini telah terbukti berisiko memicu kanker karena melalui proses pengolahan panjang dan menggunakan bahan seperti nitrat dan nitrit.

“Sekarang sudah banyak makanan siap saji, termasuk sosis. Siap-siap saja kanker 20 tahun lagi, terutama pada anak-anak. Daging yang diproses itu sudah jelas terbukti menyebabkan kanker,” tegasnya.

Prof Aru menjelaskan kanker tidak muncul secara instan. Proses terbentuknya tumor membutuhkan waktu panjang, sekitar 5 hingga 20 tahun. Bahkan, ketika benjolan teraba, proses pembelahan sel abnormal bisa saja sudah dimulai 10 hingga 15 tahun sebelumnya akibat pajanan zat karsinogen.

“Dulu makanan lebih bersifat alamiah, sekarang hampir semuanya bersifat industri. Lingkungan sudah rusak sejak awal, mulai dari cara makan hingga gaya hidup,” jelasnya dalam agenda CSR Kapas Selection kepada Yayasan Kanker Indonesia.

Ia mencontohkan kanker usus besar sebagai jenis kanker yang sangat dipengaruhi pola makan. Di negara Barat, sekitar 10 persen kasus terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Sementara di Indonesia, angkanya mencapai sekitar 30 persen. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Komika Rigen Sembuh dari Batu Ginjal Tanpa Sayatan Berkat Teknologi Robot Zamenix di RS Mandaya Royal Puri

21 Juni 2026 - 21:42 WIB

Walikota Tangsel Benyamin Ingatkan Peningkatan Literasi Digital Upaya Perlindungan Perempuan dan Anak

21 Juni 2026 - 21:39 WIB

Arif Rahman: Kadin Bukan Sekadar Wadah, Harus Jadi Penggerak Ekonomi

19 Juni 2026 - 14:54 WIB

Jelang Hari Bhayangkara Ke-80, FWK Desak Polri Kembalikan Rasa Aman Masyarakat

18 Juni 2026 - 14:44 WIB

Sebut Mubazir, Anggota DPR Usul Motor Listrik Program MBG Dijual

18 Juni 2026 - 14:36 WIB

Blackout Sumatera: KOSMAK Desak Prabowo Audit Dugaan Korupsi PLN EPI

18 Juni 2026 - 14:17 WIB

Trending di Nasional