Jakarta | Harian Merdeka
Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Tim Pengawas Haji DPR RI menemukan sejumlah persoalan pelayanan yang masih membayangi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Sorotan datang dari anggota Timwas Haji DPR RI, Nasir Djamil, usai melakukan pemantauan di Maktab 602, Makkah, Senin (25/5/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Nasir mengungkapkan masih adanya kendala klasik yang terus terulang setiap musim haji, terutama terkait transportasi jemaah dan distribusi konsumsi.
Menurut dia, ketidakjelasan jadwal bus penjemput membuat sebagian jemaah harus menunggu lebih lama dari seharusnya. Selain itu, distribusi makanan siap santap juga dinilai belum berjalan maksimal.
“Kami menemukan persoalan yang sebenarnya sudah berulang dari tahun-tahun sebelumnya. Ada bus yang terlambat menjemput jemaah, lalu makanan yang datang terlambat, bahkan ada jemaah yang sama sekali belum menerima makanan,” ujar Nasir dikutip dari laman DPR RI, Rabu (27/5/2026).
Politisi PKS itu menilai persoalan tersebut menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap kesiapan teknis penyelenggaraan ibadah haji, khususnya dalam menghadapi pergerakan besar jemaah menuju Armuzna.
Ia menegaskan, pemerintah dan kementerian terkait seharusnya mampu memetakan potensi persoalan sejak awal dengan memperkuat sistem mitigasi berbasis pengalaman penyelenggaraan haji sebelumnya.
Nasir mengingatkan bahwa gangguan layanan dasar seperti transportasi dan konsumsi dapat memengaruhi kondisi kesehatan serta konsentrasi jemaah yang tengah bersiap menjalani rangkaian ibadah paling penting dalam haji.
Karena itu, Tim Pengawas Haji DPR RI meminta dilakukan langkah cepat dan menyeluruh untuk membenahi layanan di lapangan agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap tahun.
“Kami paham mengelola ratusan ribu jemaah dari seluruh Indonesia bukan hal mudah. Tetapi pengalaman panjang dalam penyelenggaraan haji seharusnya menjadi bekal untuk memperkuat antisipasi dan mengurangi berbagai risiko yang dihadapi jemaah,” kata Nasir. (Egi)







