Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Nasional · 17 Jul 2026 13:29 WIB ·

Cak Imin Apresiasi Disertasi Idham Arsyad Soal Ketahanan Pangan di Universitas Brawijaya


Cak Imin Apresiasi Disertasi Idham Arsyad Soal Ketahanan Pangan di Universitas Brawijaya Perbesar

Malang | Harian Merdeka

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menghadiri Ujian Terbuka Disertasi mahasiswa Program Doktor Ilmu Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB) sekaligus Ketua Umum Gerbang Tani, Idham Arsyad, yang mengangkat isu kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional, Selasa (14/7/2026) di Gedung Widyaloka, UB.

Dalam kegiatan tersebut, Cak Imin mengucapkan selamat atas disandangnya gelar doktor baru tersebut. 

“Selamat kepada pak Idham, luar biasa, saya apresiasi, beliau adalah orang yang rendah hati dan tidak sombong,” ujarnya. 

Dalam penelitiannya, Idham menjelaskan terkait Ketahanan pangan perkotaan yang dinilai tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi pangan. Maka, diperlukan model kelembagaan yang mampu memperkuat hubungan antara petani dan daerah konsumen agar sistem pangan tetap tangguh menghadapi berbagai krisis global.
Melalui disertasi yang bertajuk “Resiliensi Sistem Pangan dalam Menunjang Ketahanan Nasional Melalui  Strategi Contract Farming (Studi Kasus PT.  Food Station Tjipinang Jaya DKI Jakarta)”, Idham membongkar sebuah model konseptual yang dirancang untuk memperkuat resiliensi sistem pangan urban melalui skema contract farming, yaitu Behavioral-Institutional Resilience Contract Farming (BIRCF). 

“Penelitian ini menghasilkan model Behavioral-Institutional Resilience Contract Farming (BIRCF),” tulisnya. 
Berdasarkan hasil riset tersebut, ditemukan tiga paradoks utama yang selama ini menjadi hambatan dalam penguatan ketahanan pangan.

Paradoks pertama adalah kesenjangan antara resiliensi dan produktivitas, ketika peningkatan hasil produksi belum tentu diikuti meningkatnya kemampuan sistem bertahan terhadap krisis.
Paradoks kedua yaitu kesenjangan pasar dan akses permodalan, di mana petani telah memiliki akses pasar melalui contract farming, tetapi belum memperoleh dukungan pembiayaan yang memadai.
Sementara paradoks ketiga adalah kesenjangan pengetahuan dan adopsi teknologi, ketika berbagai inovasi pertanian belum sepenuhnya diimplementasikan di tingkat petani.
Menurutnya, ketiga persoalan tersebut muncul karena sebagian besar pola contract farming masih berorientasi pada hubungan transaksional, bukan pada penguatan kapasitas petani secara berkelanjutan (upgrading).
Model BIRCF hadir menawarkan pendekatan baru dengan menempatkan penguatan kelembagaan sebagai fondasi utama contract farming. Melalui pendekatan tersebut, perilaku individu petani, proses produksi, hingga tata kelola kelembagaan dipandang sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi dalam membentuk resiliensi sistem pangan. (Egi)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Demer: Pernyataan Deddy Sitorus Soal Bahlil Tidak Berdasarkan Fakta dan Menyesatkan Publik

17 Juli 2026 - 13:32 WIB

Tambang Di Teluk Kelabat Babel: JagaTani Desak Pemegang IUP Tambang Diseret ke Penjara

16 Juli 2026 - 13:59 WIB

Korupsi Batu Bara PLN, MataHukum: Segera Bongkar Kejahatan PT OBP, PT RAP, dan PT BRA

16 Juli 2026 - 13:56 WIB

Kunjungan Wapres ke Palembang, Polda Sumsel Jamin Aktivitas Warga Lancar

16 Juli 2026 - 13:47 WIB

KPK Ungkap Alasan Geledah Rumah Anggota V BPK: Cari Bukti Pengondisian Hasil Audit

15 Juli 2026 - 10:49 WIB

Strategi Pemilu 2029: Surya Paloh Minta Garda Pemuda NasDem Rangkul Pemilih Pemula

15 Juli 2026 - 10:46 WIB

Trending di Nasional