Menu

Mode Gelap
Tebar Kepedulian, Kuatkan Kebersamaan. Koran Tangerang Raya dan LAN Kota Tangerang Adakan Santunan Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Partai Gema Bangsa Deklarasikan Diri Jadi Kekuatan Politik Baru Terungkap, Timnas Indonesia Jadi Alasan Top Skor Vietnam Pensiun Dini Marsha Aruan Jatuh Hati pada Karakter Renata di Serial Baru Menteri PU Klaim Daerah Terisolasi Usai Bencana Sumatera Sudah Teratasi

Politik · 13 Jan 2026 13:28 WIB ·

Denny Charter: Menakar Peluang Koalisi Permanen Versi Bahlil Lahadalia


Denny Charter: Menakar Peluang Koalisi Permanen Versi Bahlil Lahadalia Perbesar

JAKARTA | Harian Merdeka

Wakil Ketua Umum Pimpinan Nasional Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter, menguliti habis terhadap wacana “Koalisi Permanen” yang digulirkan Partai Golkar di kepemimpinan Bahlil Lahadalia.

Denny menilai narasi tersebut bukanlah sebuah visi kenegaraan yang futuristik, melainkan sebuah “ide licik” yang lahir dari kecemasan eksistensial partai yang tak mampu hidup di luar lingkaran kekuasaan.

​”Secara klinis, ini adalah bentuk defense mechanism dari entitas yang tidak memiliki DNA untuk menjadi oposisi. Ini bukan tentang stabilitas bangsa, melainkan ‘Fobia Berada di Luar Istana’,” ujar Denny Charter dalam keterangan tertulisnya, Senin (12/1/26).

​Analisis Psikologi Kekuasaan: Loss Aversion

​Denny membedah fenomena ini menggunakan pendekatan psikologi perilaku Loss Aversion yang dikembangkan Daniel Kahneman.

Menurutnya, Golkar yang lahir dari rahim Orde Baru memiliki struktur seluler politik yang hanya bisa hidup jika dialiri “nutrisi” kekuasaan berupa akses APBN dan jabatan.

​”Bagi Golkar, dan mungkin secara spesifik bagi Bahlil, menjadi oposisi adalah ‘kematian’. Usulan koalisi permanen adalah upaya membekukan status quo agar mereka tidak perlu menghadapi ketidakpastian kompetisi di masa depan,” tegasnya.

​Ilusi Teoretis dan Jejak Oportunisme

​Dari perspektif Ilmu Politik, Denny menyebut istilah “Koalisi Permanen” sebagai sebuah oxymoron atau pertentangan makna.

Ia mengutip aksioma realisme politik Lord Palmerston bahwa dalam politik tidak ada sekutu abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.

​Dirinya pun mengingatkan publik pada memori kelam tahun 2014 melalui fenomena Koalisi Merah Putih (KMP). Saat itu, retorika koalisi permanen didengungkan untuk menguasai parlemen dan menandingi pemerintahan Jokowi-JK. Namun, sejarah mencatat Golkar melakukan manuver “balik badan” yang spektakuler begitu menyadari bahwa berada di luar pemerintahan berarti kering logistik.

​”Sejarah adalah hakim yang paling kejam. Kita tidak boleh amnesia. Begitu menyadari berada di luar pemerintahan itu ‘dingin’, mereka menjadi penumpang pertama yang melompat ke sekoci pemenang dengan membawa proposal stabilitas baru. Loyalitas mereka terbukti cair, bukan padat,” sindir Denny.

​Penumpang Pertama di Sekoci Pemenang

​Menutup analisanya, Denny memperingatkan rekan koalisi Golkar saat ini agar tidak terbuai dengan janji setia “permanen” tersebut.

Menurutnya, definisi permanen bagi partai berlambang pohon beringin itu bukanlah tentang dengan siapa mereka berteman, melainkan tentang posisi mereka yang harus selalu berada di dalam kekuasaan.

​”Jika koalisi ini terbentuk dan kalah di masa depan, jangan harap mereka akan tenggelam bersama kapal tersebut. Mereka akan tetap menjadi penyintas politik yang paling oportunis,” pungkasnya. (Rhm)

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dipimpin Sufmi Dasco, Paripurna DPR Resmi Sahkan Revisi UU P2SK

4 Juni 2026 - 13:45 WIB

Adaptasi dengan Perubahan Tatanan Global dan Evolusi Kecerdasan Buatan

4 Juni 2026 - 12:22 WIB

Tanggapi Penggeledahan Kantor BGN, Dasco: Kita Serahkan ke Penegak Hukum

3 Juni 2026 - 15:05 WIB

Kritik Istilah ‘Durhaka’ Wakil Bupati Serang, Pengamat: Pakai Aturan Hukum

3 Juni 2026 - 10:43 WIB

Marwan Jafar: Urus Domestik Dulu, Jangan Genit MBG ke Luar Negeri

2 Juni 2026 - 16:38 WIB

Firman Soebagyo Usul Lingkungan Pemda hingga Pusat Rutin Baca Pancasila

2 Juni 2026 - 12:02 WIB

Trending di Politik